Prabowo: Daripada Uang-Uang Dikorupsi, Lebih Baik Rakyat Saya Bisa Makan

Senin 06-04-2026,09:33 WIB
Oleh: Bagus Suminar*

Apakah programnya tepat sasaran? Makanannya betul-betul bermutu atau tidak? Pengawasannya kuat atau tidak? Efisien atau tidak? Ada kebocoran baru atau tidak? Pun, kalau anggarannya besar sekali, apa ada program dan kebutuhan lain yang akhirnya terdorong ke belakang?

BACA JUGA:Reshuffle Kabinet, Pertaruhan Prabowo Menguji Ekspektasi Pasar?

BACA JUGA:Momentum Presiden Prabowo Subianto

Pertanyaan seperti itu bukan tanda orang tidak peduli. Bukan juga tanda orang mau menggagalkan program. Justru biasanya lahir dari kepedulian dan kehati-hatian. 

Kalau sebuah program dibangun atas nama rakyat, ya program itu harus tahan diperiksa. Tidak cukup hanya dibela dengan kalimat yang kuat. Ia juga harus kuat, efektif, dan efisien saat dijalankan.

Di sini, teori dari Erving Goffman dalam buku Frame Analysis: An Essay on the Organization of Experience (1974) cukup membantu. Goffman menjelaskan bahwa cara sebuah isu dibingkai akan memengaruhi cara orang melihatnya. 

Dalam ucapan Prabowo di atas, bingkai yang dipakai adalah bingkai moral. Uang dikorupsi atau rakyat makan. Begitu bingkainya jadi seperti itu, pertanyaan yang teknis gampang kelihatan tidak penting. 

BACA JUGA:Tersangka Korupsi Wamenaker Berharap Amnesti Prabowo: Kalau Hasto Bisa, Mengapa…

BACA JUGA:Bisakah Prabowo Lepas dari Jokowi?

Orang yang bertanya soal desain program atau tata kelola bisa saja dianggap terlalu cerewet atau kurang peka.

Padahal, urusan teknis itu bukan perkara kecil.

Justru di situlah nasib sebuah kebijakan sering dipertaruhkan.

Kalau mau dibaca lebih jauh lagi, pernyataan tersebut juga dekat dengan apa yang dalam logika disebut false dilemma

Douglas Walton, dalam buku Informal Fallacies: Towards a Theory of Argument Criticisms (1987), membahas bagaimana sebuah argumen kadang dibuat seolah pilihannya cuma dua, padahal kenyataannya lebih luas. Di sini terasa sekali. 

Seakan-akan pilihannya hanya dua: uang dikorupsi atau dipakai untuk MBG. Padahal, uang publik bisa dipakai untuk rakyat melalui banyak cara dan banyak tujuan. Semuanya tetap perlu diuji desainnya, diawasi pelaksanaannya, dikritik bila perlu, lalu diperbaiki.

Jadi, yang perlu dijaga bukan semangatnya saja, melainkan juga cara berpikirnya.

Kategori :