Harian Disway X Grand Qin Hotel (3): Napas Islam Martapura

Harian Disway X Grand Qin Hotel (3): Napas Islam Martapura

Ponpes Darussalam, pesantren terbesar dan tertua di Kalimantan Selatan. Hingga kini dipenuhi para santri dari berbagai daerah.-Guruh D.N.-Harian Disway

Menyusuri pesantren tertua di Kalimantan Selatan (Kalsel). Yakni Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam. Letaknya di Martapura. Ponpes tersebut telah melahirkan ulama-ulama besar. Juga jadi saksi sejarah dakwah Islam pada masa lampau.

Dibangun sejak 1914. Maka pada 2026, usia Pondok Pesantren Darussalam Martapura genap 112 tahun. Seabad lebih. Kini, ponpes tersebut masih menjadi jujugan masyarakat yang ingin belajar agama.

Tak hanya di Kalimantan saja. Tapi juga dari luar Kalimantan. Itu karena reputasinya sebagai ponpes penghasil ulama-ulama besar. Hampir seluruh silsilah murid hingga guru agama di Kalsel terkait ponpes tersebut.

“Ponpes ini dibagi menjadi dua jadwal. Pukul 8-12 khusus santri. Sedangkan pukul 2 siang sampai 4 sore diisi oleh santriwati,” ujar Ahmad Zaini, tour guide dari BDJ Walking Tour.

BACA JUGA:Harian Disway X Grand Qin Hotel (1): Permata di Sudut Martapura


Ponpes Darussalam yang terletak di tepi aliran Sungai Martapura, Kalimantan Selatan.-Guruh D.N.-Harian Disway

Ponpes Darussalam didirikan oleh K.H. Jamaluddin. Awalnya dinamakan Madrasah Islam Darussalam.

Eksistensinya bahkan tercatat dalam dokumen kolonial. Ditulis oleh H.M. Holtrus, berjudul Memorie van Overgave Onderafdeeling Martapoera Door.

“Karena kuatnya pengaruh keagamaan dan tradisi Islam di Martapura, kota ini kerap disebut ‘Serambi Mekkah’-nya Kalimantan,” ungkap Zaini.

Ponpes Darussalam bukan seperti pesantren pada umumnya di Jawa. Santri dan santriwati setempat tidak menginap atau mondok. “Setelah belajar langsung pulang ke rumah. Kalau dari luar Kalsel biasanya indekos,” tambah pria 32 tahun itu.

BACA JUGA:Wisata Slow Travel, Tren Liburan Tanpa Terburu-buru yang Populer di Kalangan Gen-Z

BACA JUGA:Wisata Mangrove Wonorejo Eco Tourism, Tempat Mancing Sekaligus Healing di Surabaya

Hari itu, 8 Mei 2026, suasana ponpes tak begitu ramai. Sebab, mereka libur tiap Jumat. Namun, ada beberapa santri yang tampak sibuk kerja bakti. Mengusung tangga dan beragam properti.

“Dalam waktu dekat, kami akan menggelar ‘sanadan’. Semacam pemberian ijazah atas prestasi hafalan kitab,” ujar Muhammad Fauzan, salah seorang santri.

Ia merupakan warga asli Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Ia sebenarnya telah lulus pendidikan Aliyah di kampungnya. Namun, ia memilih mendalami agama di Ponpes Darussalam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: harian disway