Prabowo Wajib Belajar Lagi ke Gus Dur

Senin 06-04-2026,10:33 WIB
Oleh: Yusron Aminulloh*

”KEKUASAAN itu kemuliaan”. Narasi itu kalau dibiarkan bisa membahayakan. Cara berpikir salah tersebut, kalau dipelihara, akan menyesatkan. Sebab, logikanya bisa dibalik: orang yang kalah sehingga tidak punya kekuasaan bisa menjadi hina. 

Kekuasaan tidak selalu membawa kemuliaan karena sering kali hanyalah atribut sementara yang menutupi kerapuhan, ambisi pribadi, atau ketidakadilan. 

Kemuliaan sejati tidak diukur dari tingginya jabatan, tetapi dari integritas, akhlak, dan manfaat yang diberikan kepada sesama. 

Sebaliknya, kekalahan tidak selamanya menjadi kehinaan. Bahkan, bisa menjadi kehormatan dalam proses: seseorang yang kalah setelah berjuang dengan jujur dan memberikan usaha terbaiknya tetap memiliki martabat yang tinggi. 

BACA JUGA:Ketika Tak Ada Yang Berani 'Bisiki' Objektivitas kepada Prabowo

BACA JUGA:Danantara dan Kopdes: Taruhan Besar Prabowo Melawan Kapitalisme Pasar

Kehinaan justru datang ketika seseorang menang dengan cara yang curang atau kehilangan prinsip moralnya.

Gus Dur adalah salah satu orang yang dianggap guru oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia tidak menjadi mulia karena kekuasaan dan menjadi hina karena dijatuhkan. Justru ia menjadi lebih mulia seusai dijatuhkan dari kursi empuk presiden. Ia menjadi tokoh bangsa yang dihormati.

Gus Dur marah dan sangat tidak setuju dengan kebijakan Soeharto. Namun, ia datangi Soeharto di rumahnya saat terpilih jadi presiden.

Gus Dur jelas menganggap Megawati Soekarnoputri adalah pihak yang menjatuhkan dirinya dari kursi kepresidenan. Namun, Gur Dur mendatangi dan makan bersama dengan Megawati. 

BACA JUGA:Prabowo, Demokratisasi, dan Dialog Deliberatif: Ketika Dialog Tak Selalu Terlihat

BACA JUGA:Kapolri Mendahului atau Melawan Presiden Prabowo?

Alasannya sama: sebagai manusia, semua saudara. Bahwa laku politiknya menyakitkan, itu tidak memengaruhi rasa persaudaraan.

Dikritik, dihina personal sehingga disebut presiden buta, tidak demokratis, didemo suruh mundur, Gus Dur tidak marah dan melawan musuhnya dengan menyebut pihak pengkritik memiliki sikap sempit karena tidak menginginkan pemerintah berhasil.

Gus Dur didesak mundur, ia jawab dengan gaya ludrukan Jombang, ”wong maju saja gak bisa (harus dituntun), kok disuruh mundur.” Ia hina dirinya untuk mendapat kemuliaan. 

Kategori :