Sebaliknya, ”murid” Gus Dur yang dijagokan jadi presiden karena dinilai tulus mengabdi untuk negara, yakni Prabowo Subianto, sering ”marah” kepada tokoh oposan yang dianggap mengkritik berlebihan.
BACA JUGA:Reshuffle Kabinet, Pertaruhan Prabowo Menguji Ekspektasi Pasar?
BACA JUGA:Momentum Presiden Prabowo Subianto
Prabowo lupa, marahnya presiden, gelisahnya presiden, tidak boleh ditampakkan, apalagi di depan umum. Itu berbahaya kalau bawahannya ”menerjemahkan” salah.
Dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026, Prabowo Subianto sebagai presiden RI menyoroti sebagian pengamat yang memiliki sikap sempit karena tidak menginginkan pemerintah berhasil dengan cara menimbulkan kecemasan di tengah masyarakat.
Presiden menyatakan, kritik dan perbedaan pendapat dalam demokrasi merupakan hal yang wajar, tetapi tidak seharusnya dilakukan dengan tujuan melemahkan negara.
”Pengamat-pengamat ada beberapa macam menurut saya. Ada yang memang tidak suka pemerintahnya sendiri berhasil karena berbagai motivasi. Tapi, menurut saya, mereka itu ya, menurut saya, sikap mereka itu sikap yang sempit, bukan sikap patriotik,” ujar Prabowo seperti dilansir Antara.
BACA JUGA:In Group dan Out Group Kabinet Prabowo
BACA JUGA:Bisakah Prabowo Lepas dari Jokowi?
Prabowo menyebut persaingan politik merupakan hal yang normal dalam sistem demokrasi, seperti dalam pemilihan kepala daerah, pemilihan anggota legislatif, maupun pemilihan presiden yang berlangsung setiap lima tahun.
Namun, setelah proses politik selesai, seluruh pihak seharusnya bersatu untuk menjaga dan memperkuat negara.
”Pengamat-pengamat, menurut saya, ada yang motivasinya ingin menimbulkan kecemasan rakyat. Saya juga tidak mengerti pemikirannya seperti apa, karena kita satu negara, ini kan satu kapal. Kalau kapalnya oleng, mereka juga oleng,” katanya.
Bahkan, Prabowo sering menggunakan bahasa dan narasi yang kurang tepat sebagai sosok presidennya jutaan rakyat, orang kecil yang hidupnya masih susah. Misalnya, memberi tahu rakyat bahwa intelijen disebar di tengah masyarakat.
BACA JUGA:Danantara, Kopdes Merah Putih, dan State Capitalism ala Prabowo
BACA JUGA:Kapolri Mendahului atau Melawan Presiden Prabowo?
”Pemerintah memiliki berbagai data dan laporan intelijen terkait berbagai pihak yang mencoba memengaruhi opini publik. Pemerintah akan menertibkan berbagai praktik yang merugikan negara, termasuk korupsi.”