HARIAN DISWAY - Fenomena scroll tanpa henti di media sosial seperti Instagram dan TikTok kini bukan sekadar kebiasaan. Tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup digital.
Namun di balik keseruan video singkat yang menghibur, muncul istilah baru yang patut diwaspadai. Yakni popcorn brain.
Istilah popcorn brain merujuk pada kondisi ketika otak terbiasa menerima rangsangan cepat, singkat, dan terus-menerus.
Mirip seperti popcorn yang meletup tanpa henti. Akibatnya, seseorang menjadi sulit fokus, mudah bosan, dan selalu ingin mencari hiburan instan.
BACA JUGA:Doomscrolling Media Sosial saat Tahun Baru Picu FOMO dan Overthinking
BACA JUGA:Mindful Scrolling: 5 Strategi Ampuh Bermedia Sosial Tanpa Kecanduan dan Stres
Kebiasaan scroll tanpa batas membuat otak terus “dipaksa” menikmati konten berdurasi pendek yang cepat berubah.
Tanpa disadari, itu memicu lonjakan dopamin zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang. Sehingga orang akan terus-menerus scrolling.
Berbaring lama di kasur, dari scrolling media sosial hingga tidur. Waspada popcorn brain.-freepik-
Namun, jika terjadi terus-menerus, otak bisa kehilangan kemampuan untuk menikmati aktivitas yang lebih tenang dan membutuhkan konsentrasi. Dampaknya mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang mengaku sulit membaca buku. Cepat merasa jenuh saat bekerja. Hingga tidak tahan menonton video berdurasi panjang.
BACA JUGA:Doomscrolling, Ancaman dari Kebiasaan Menggulir Berita Negatif
BACA JUGA:Aplikasi Penghasil Uang Mirip TikTok, Modal Scrolling Dapat Rp 100 Ribu
Bahkan, aktivitas sederhana seperti mengobrol tanpa distraksi pun terasa membosankan.
Selain itu, popcorn brain juga bisa berdampak pada kualitas tidur. Kebiasaan scrolling sebelum tidur membuat otak tetap aktif dan sulit beristirahat. Akibatnya, tubuh merasa lelah meski waktu tidur cukup.
Para ahli menyarankan untuk mulai mengatur waktu penggunaan media sosial. Salah satunya dengan menerapkan batas screen time.
Cara selanjutnya adalah menjauhkan ponsel sebelum tidur. Serta mencoba aktivitas yang melatih fokus. Seperti membaca atau menulis.
BACA JUGA:Bahaya Scrolling Tanpa Tujuan saat Waktu Luang
BACA JUGA:Doomscrolling: Maraknya Informasi Negatif di Media Sosial, Picu Gangguan Mental
Gadget menjadi salah satu penyebab seseorang lebih memilih scroll medsos atau bermain game sampai menunda tidur. --iStock
Mengurangi paparan konten cepat bukan berarti harus berhenti total dari media sosial. Kuncinya adalah keseimbangan.
Dengan penggunaan yang bijak, media sosial tetap bisa menjadi sumber hiburan. Tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.
Di era digital seperti sekarang, kesadaran menjadi kunci utama. Jangan terlena dengan kesenangan sesaat saja.
Jangan sampai kegiatan scroll tanpa henti justru membuat otak kehilangan kemampuan untuk fokus. Sebab, mungkin dampak popcorn brain tidak terasa sekarang. Tapi bisa terjadi dalam jangka panjang. (*)
*) Mahasiswa magang dari Prodi Akidah dan Filsafat Islam, UINSA.