Syahroni: ”Tikaman pertama bisa dihindari Abdillah. Tikaman kedua menyerempet bahu saya, lalu menancap ke leher Abdillah. Tikaman sangat kencang, membuat Abdillah luka sangat dalam,”
Lokasi berupa tempat terbuka. Banyak warga. Namun, kejadian berlangsung cepat. Warga juga tak tahu persoalan.
Lalu, pemuda itu kabur naik motor. Pemuda tersebut diidentifikasi sebagai Rasyid, teman Abdillah. Dalam kondisi kritis, Abdillah ditolong warga. Darah mengucur deras. Warga telepon polisi. Segera, tim polisi tiba dan memeriksa Abdillah yang sudah meninggal. Mayatnya dikirim ke RSUD Ulin Banjarmasin.
Polisi menyelidiki. Mengolah TKP, memeriksa saksi-saksi, dan melacak jejak pelaku. Senjata pembunuhan tidak ditemukan di TKP. Menurut saksi, senjata memang dibawa pelaku.
Hari kedua penyelidikan, polisi mengetahui arah pelarian pelaku. Ke suatu titik lokasi di Palangka Raya. Polisi mengejarnya. Akhirnya pelaku dibekuk tanpa perlawanan.
Polisi belum menetapkan pasal untuk tersangka. Namun, motif dendam berarti pembunuhan berencana. Pasal 459 KUHP. Ancaman maksimal hukuman mati.
Amuk dendam. Amukan pelampiasan dendam. Itulah pengakuan tersangka Rasyid kepada penyidik polisi. Pasti, Rasyid lega setelah melampiaskan dendam dengan cara begitu sadis. Ia puas.
Dikutip dari Association for Psychological Science (APS), 4 Oktober 2011, berjudul The Complicated Psychology of Revenge, karya Eric Jaffe, diungkapkan riset tentang dendam.
Disebutkan, dendam adalah rasa yang abadi pada manusia. Sejak purba hingga kelak. Sebab, balas dendam terasa manis. Walaupun bakal berakhir pahit.
Diungkap, beberapa tahun lalu (dari tahun penerbitan 2011), sekelompok peneliti psikologi Swiss memindai otak orang-orang (responden) yang telah dirugikan dalam suatu permainan pertukaran ekonomi.
Para responden memercayai mitra mereka untuk membagi sejumlah uang dengan para responden. Direkayasa sedemikian rupa. Tujuannya untuk menemukan bahwa mitra para responden menyimpan uang itu untuk diri mereka sendiri. Alias curang.
Para peneliti kemudian memberikan kesempatan kepada para responden untuk menghukum mitra mereka yang curang dan serakah. Dipantau selama satu menit penuh, saat para responden merenungkan balas dendam, aktivitas di otak mereka direkam.
Keputusan tersebut menyebabkan para responden mengalami lonjakan aktivitas saraf di nukleus kaudatus, area otak yang dikenal memproses imbalan. Itulah amukan dendam. Tapi, belum dilampiaskan.
Temuan tersebut, yang diterbitkan dalam edisi Science tahun 2004, memberikan konfirmasi fisiologis terhadap apa yang telah dikatakan orang-orang yang dirugikan selama bertahun-tahun: balas dendam itu manis. Maksudnya, terasa menyenangkan. Sebab, ada suatu tujuan yang jelas, melampiaskan dendam.
Hasrat untuk membalas dendam adalah sesuatu yang abadi. Sejak adanya manusia. Dendam seklasik Homer dan Hamlet serta semodern Don Corleone dan Quentin Tarantino.
Penggambaran APS itu unik. Homer dan Hamlet adalah dua sosok yang berbeda dalam sejarah sastra. Keduanya merujuk pada karya sastra klasik internasional yang terkenal.