Mengubah Krisis Energi Menjadi Energi Kreativitas

Kamis 09-04-2026,10:59 WIB
Oleh: Andria Saptyasari & Yayan Sakti S.*

Ironi terbesar justru terletak pada kondisi Indonesia sendiri. Negeri ini tidak kekurangan sumber daya. Matahari bersinar hampir sepanjang tahun, air melimpah, angin tersedia di berbagai wilayah. Semua itu adalah potensi energi terbarukan yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Bahkan, potensi energi laut Indonesia sangat besar dan mulai diuji melalui berbagai proyek percontohan. Misalnya, pengembangan pembangkit listrik tenaga arus laut di Selat Larantuka, Nusa Tenggara Timur, yang dikenal memiliki arus laut kuat dan stabil. 

Selain itu, terdapat inisiatif pemanfaatan energi gelombang laut di pesisir selatan Jawa serta rencana pengembangan teknologi energi pasang surut di wilayah timur Indonesia. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa laut Indonesia bukan hanya sumber pangan, melainkan juga sumber energi masa depan.

Di sisi lain, Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang besar. Banyak anak muda melek teknologi, kreatif, dan mampu berinovasi. Namun, mengapa ketergantungan pada energi impor masih begitu tinggi?

Jawabannya sederhana, tetapi sering diabaikan: ada jurang antara potensi dan pemanfaatan. Kekayaan sumber daya tidak otomatis menjadi kekuatan jika tidak dikelola dengan baik. Di sanalah persoalan bukan lagi pada apa yang dimiliki, melainkan pada bagaimana memanfaatkannya.

KREATIVITAS MASYARAKAT YANG TERABAIKAN

Sebenarnya, masyarakat tidak kekurangan ide. Di berbagai daerah, kita bisa menemukan upaya-upaya sederhana untuk menghemat energi atau menciptakan alternatif. Mulai penggunaan biogas skala rumah tangga hingga pemanfaatan panel surya sederhana.

Sayang, inovasi seperti itu sering berhenti di lingkup kecil. Tidak berkembang, tidak direplikasi, dan tidak mendapat perhatian luas. Bukan karena masyarakat tidak mampu, melainkan karena ruang untuk berkembang masih terbatas.

Budaya yang terlalu top-down membuat masyarakat lebih sering ditempatkan sebagai penerima kebijakan, bukan pelaku perubahan. Kreativitas yang seharusnya menjadi kekuatan justru terpinggirkan. Padahal, solusi dari krisis sering kali lahir dari kebutuhan paling dekat, yakni dari masyarakat itu sendiri.

PERAN KOMUNIKASI: DARI KEPANIKAN KE INOVASI

Fenomena panic buying yang muncul di tengah ancaman krisis energi adalah contoh nyata bagaimana komunikasi belum berjalan efektif. Informasi yang tidak jelas atau terlambat justru memperbesar kepanikan.

Di sinilah pentingnya komunikasi yang memberdayakan. Pemerintah dan media tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu membangun kepercayaan dan mengarahkan masyarakat pada solusi. 

Komunikasi seharusnya tidak berhenti pada imbauan untuk berhemat, tetapi juga berkembang menjadi ajakan untuk berinovasi.

Ada peribahasa lama yang relevan: tidak ada rotan, akar pun jadi. Dalam konteks hari ini, ketika BBM makin terbatas, energi alternatif seharusnya menjadi pilihan nyata. Namun, perubahan itu tidak bisa dilakukan secara individual. Dibutuhkan gerakan kolektif yang didukung narasi yang kuat.

Masyarakat perlu diyakinkan bahwa mereka bukan sekadar korban krisis, meainkan juga bagian dari solusi.

KRISIS ENERGI ADALAH UJIAN, BUKAN AKHIR

Kategori :