PAGI ITU saya beli sayur di depan rumah. Tukang sayurnya mengeluh: minyak goreng naik lagi. ”Gara-gara perang, Pak,” katanya sambil menimbang kangkung. Saya tanya, perang apa. ”Ya, perang yang di TV itu, yang di laut sana.”
Tukang sayur saya tidak tahu nama Selat Hormuz. Tapi, dia tahu persis efeknya: minyak goreng mahal, gas naik, ongkos kirim melonjak. Itulah keajaiban geopolitik.
Orang yang tidak pernah dengar kata ”chokepoint” bisa merasakan dampaknya setiap pagi di dapur.
Maka, izinkan saya bercerita tentang apa yang terjadi Rabu, 8 April 2026, dengan bahasa yang bisa dimengerti tukang sayur saya.
Sebab, jujur saja, kadang bahasa diplomat justru membuat segala sesuatu lebih membingungkan daripada harga cabai di musim hujan.
SERATUS BOM DALAM SEPULUH MENIT
Israel menyebutnya Operation Eternal Darkness. Nama yang dramatis. Tapi, isinya lebih dramatis lagi: seratus serangan udara dalam sepuluh menit ke Lebanon.
Bukan sepuluh jam. Bukan sepuluh hari. Sepuluh menit. Anda belum selesai menyeduh kopi, sudah ada 250 orang tewas dan 1.160 luka-luka.
Yang dihantam bukan sembarang target. Markas besar Hizbullah, pusat intelijen, infrastruktur rudal, unit angkatan laut, bahkan sekretaris pribadi dan keponakan pemimpin Hizbullah Naim Kassem ikut tewas.
Pengawal pribadinya juga. Komandan di Beirut juga. Israel mengeklaim sudah 1.500 anggota Hizbullah yang tereliminasi sejak konflik itu dimulai.
Di sinilah ironinya mulai terasa. Amerika Serikat (AS) dan Israel merancang gencatan senjata yang secara sengaja tidak memasukkan Hizbullah.
Seperti mengundang semua tetangga ke pesta ulang tahun, kecuali satu orang yang paling berisik. Dan, orang itu sekarang melemparkan petasan dari halaman sebelah.
TUAN RUMAH YANG KEWALAHAN
Saya sering bilang, dalam diplomasi Timur Tengah, yang paling repot bukan yang berperang, melainkan yang menjadi mediator. Pakistan sedang merasakan itu sekarang.
Trump memosting di Truth Social dua jam sebelum deadline serangannya ke Iran. Isinya kurang lebih: ”Berdasarkan percakapan dengan PM Sharif dan Field Marshal Asim Munir dari Pakistan, saya setuju menunda serangan selama dua minggu.”