HARIAN DISWAY - Terapi dengan musik tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Sebab, setiap kasus akan membutuhkan penanganan yang berbeda.
Terapi musik dapat membantu penanganan psikologis. Juga mempermudah dalam memberikan motivasi untuk penyembuhan. Pun, memperbaiki emosi.
Misalnya, untuk mengurangi stres pada bayi akibat suara mesin yang berisik dalam ruangan. Dengan terapi musik, akan membantu meningkatkan refleks untuk menyusu.
Dalam momentum World Music Therapy Week, 14 April 2026 di Gereja Kristus Tuhan Jemaat Hosana (GKT Hosana), peserta memperoleh wawasan tentang terapi musik dan penerapannya.
BACA JUGA:Usung Musik Folklore ke Balai Pemuda Surabaya, Kedutaan Hungaria Harapkan Jalinan Kerja Sama Budaya
BACA JUGA:Suara Seribu Pelajar Hari Musik Nasional, Siswa SMPN 3 Surabaya Nyanyikan Indonesia Raya 3 Stanza
“Masalah kesehatan mental, trauma, kecanduan, hingga rehabilitasi medis juga bisa dibantu penanganannya dengan diiringi terapi musik,” terang Kezia K. Putri, Dekan Fakultas Musik Universitas Pelita Harapan (UPH) sekaligus pemateri acara tersebut.
Kezia mengisi materi di World Music Therapy Week di GKT Hosana pada 14 April 2026. - Ilmi Bening - Harian Disway
Terapis musik pun bisa bekerja di berbagai tempat. Seperti rumah sakit, sekolah, tempat rehabilitasi, sekolah luar biasa, dan lain-lain.
Pasien tidak perlu mahir bermain musik. Cukup terapis musik saja yang menguasai instrumen, nada-nadanya, juga memahami pasien dengan pendekatan psikologis.
“Kami bukan sekadar tampil di depan pasien, melainkan mengolah teknik musik tersebut menjadi intervensi klinis. Jadi, kemampuan instrumennya harus matang terlebih dahulu. Baru kemudian bisa ditransfer ke ranah medis atau klinis,” ujarnya.
BACA JUGA:Bikin Bangga! Suga BTS Terbitkan Buku Terapi Musik untuk Anak Autis Bareng RS Severance
BACA JUGA:Parade Indonesia Bermusik Buka Rangkaian Hari Musik Nasional di Makam WR Supratman
Semua alat musik bisa dipakai untuk terapi. Misalnya piano, gitar, perkusi, dan lain-lain. Penggunaannya tentu bergantung pada kebutuhan klinis pasien. Dari sisi penanganan tentu tidak akan sama antara satu dengan yang lainnya.
Contoh kasus lain adalah seorang pasien yang mendapatkan rujukan dari dokter untuk menjalani fisioterapi, terapi wicara, dan terapi musik sekaligus. Maka, semuanya bisa saling berkolaborasi dan bekerja sama.