Janji nang Pantai Klayar, Jangan Tinggal Janji

Janji nang Pantai Klayar, Jangan Tinggal Janji

PANTAI Klayar di Pacitan sedang ramai pengunjung saat libur Lebaran 2026. -Suryanto untuk Harian Disway-

PACITAN itu indah. Sangat indah. Saking indahnya, orang rela menempuh perjalanan panjang, berdesakan saat libur Lebaran, bahkan bersabar melewati jalan sempit dan berkelok hanya untuk sampai ke pantai-pantainya. 

Namun, justru di situlah masalahnya: jangan biarkan keindahan Pacitan bekerja sendirian. Jangan terus-menerus menggantungkan masa depan wisata pada kemurahan alam, sementara akses, sinyal, listrik, dan tata kelola masih tertinggal di belakang.

Saya datang ke Pacitan saat libur Lebaran. Pantai-pantai selatan seperti Kali Cokel, Watu Karung, Klayar, hingga Ngiroboyo penuh oleh wisatawan. Orang datang bukan tanpa alasan. Pacitan memang punya lanskap yang sulit dilawan. 

Lautnya lepas, karangnya megah, ombaknya hidup, udaranya memberikan rasa lapang. Sekali melihat, orang mudah paham mengapa kawasan itu selalu punya tempat di hati para pelancong. Namun, keindahan tersebut datang dengan harga yang tidak kecil. Diperlukan usaha untuk mencapainya.

BACA JUGA:Khofifah dan Kaka Slank, Tanam Mangrove di Pacitan

BACA JUGA:Heboh Pembacokan Sekeluarga Mantan Istri di Pacitan: Pelaku Kabur Masuk Hutan

Jalan menuju beberapa lokasi wisata masih menuntut kesabaran ekstra. Bukan hanya sabar, melainkan juga keterampilan mengemudi. Ada ruas-ruas jalan yang begitu sempit sehingga kendaraan harus bergantian lewat. 

Kadang satu pihak harus berhenti lebih dulu hanya untuk memberikan jalan kepada arus dari arah depan. Di atas kertas, itu mungkin disebut tantangan geografis. Di lapangan, itu adalah ujian kesabaran wisatawan.

Pacitan, dengan kata lain, belum sepenuhnya ramah bagi orang yang ingin menikmati keindahannya. Persoalan itu belum selesai. Di beberapa titik, sinyal telepon menghilang. Listrik pun sesekali masih byar-pet. 

Mungkin ada yang bilang, itu bagian dari ”sensasi alam”. Saya tidak setuju. Wisata boleh menjual petualangan, tetapi tidak boleh menormalisasi ketidaknyamanan dasar. Sinyal, listrik, akses jalan, petunjuk arah, kebersihan, dan layanan dasar hari ini bukan kemewahan. Itu syarat minimum destinasi yang ingin naik kelas.

BACA JUGA:Pacitan Krisis Air, BPBD Jatim Kirim 11 Ribu Liter Bantuan

BACA JUGA:Pemkab Pacitan Akan Genjot Sumber Energi Terbarukan Untuk Ecotourism

PACITAN TERLALU INDAH UNTUK DIKELOLA SETENGAH-SETENGAH

Yang lebih menarik, pengalaman perjalanan saya justru memperlihatkan paradoks yang layak dievaluasi serius. Secara administratif, Pacitan berada di Jawa Timur. Namun, secara rasa perjalanan, ia justru terasa lebih dekat ke Jawa Tengah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: