Dalam arus global yang seringkali mengaburkan jati diri, Surabaya justru menegaskan dirinya melalui nilai-nilai lokal yang universal kemanusiaan, keadilan, dan kebersamaan.
Dengan cara itu, Surabaya tidak hanya menjadi kota yang maju, tetapi juga kota yang bermakna. Pada akhirnya, Kampung Pancasila adalah cermin harapan.
Ia memperlihatkan bahwa masa depan kota tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh partisipasi aktif warganya.
Ketika kepedulian dan kegotongroyongan menjadi napas bersama, Surabaya benar-benar menjadi kota yang ramah dan aman –bukan karena pengawasan semata, melainkan karena kesadaran kolektif untuk saling menjaga.
Dari kampung di Jalan Krembangan Bhakti Nomor 42 itu, sebuah pesan sederhana tetapi kuat digaungkan: masa depan kota global tidak harus dibangun dengan melupakan akar, tetapi justru dengan menguatkannya.
Dari sana pula, Surabaya melangkah –dengan wajah yang tetap humanis, jiwa yang tetap hangat, dan semangat kebersamaan yang tidak pernah padam. (*)
*) M. Isa Ansori adalah kolumnis; pengajar psikologi komunikasi dan transaksional analisis; serta pemerhati kebijakan pendidikan, sosial, budaya, dan perlindungan anak.