Ketiga, pemberdayaan perempuan dengan menginisiasi program-program yang mendukung kemandirian ekonomi, pendidikan, dan kepemimpinan perempuan.
Tentu masih banyak yang dapat dilakukan agar semangat dan perjuangan Kartini terasa nyata dalam kehidupan perempuan Indonesia.
Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada perayaan simbolis, tetapi menjadi titik tolak untuk perubahan nyata. Kartini bukan sekadar sosok yang dikenang, melainkan juga semangat yang harus dihidupkan dalam praktik sehari-hari.
Menghidupkan Kartini berarti berani berpikir kritis, menantang ketidakadilan, dan memperjuangkan dunia yang lebih setara.
Dengan demikian, Hari Kartini bukan hanya tentang masa lalu, melainkan juga tentang masa kini dan masa depan, tentang bagaimana kita memaknai perjuangan perempuan dalam konteks yang terus berubah, dan bagaimana kita melanjutkan perjuangan itu dengan cara yang relevan dan bermakna.
Pada akhirnya, merayakan Hari Kartini bukanlah tentang seberapa meriah perayaannya, melainkan seberapa dalam kita memaknainya. Selama kita terus merawatnya, Hari Kartini tidak akan pernah menjadi sekadar perayaan, tetapi juga akan selalu menjadi gerakan sebuah perjuangan. (*)
*) Ni Wayan Sartini adalah dosen di Fakultas Ilmu Budaya, Unair.