HARIAN DISWAY - Gencatan senjata selama 2 Minggu antara Amerika Serikat (AS) dan AS akan berakhir pada Rabu, 22 April 2026 besok. Sampai Senin malam, Iran belum mau bertemu AS di Islamabad.
Dunia kini dibayangi meletusnya kembali perang skala penuh di Timur Tengah. Teheran memberikan sinyal kuat bahwa mereka belum bersedia kembali ke meja perundingan di Islamabad, Pakistan, dengan alasan ketidakkonsistenan sikap Washington.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, dalam konferensi pers mingguannya menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan resmi dari pemerintah pusat untuk berpartisipasi dalam putaran negosiasi baru.
Ketidakpastian ini muncul saat dunia sedang menahan napas menunggu kelanjutan gencatan senjata dua minggu yang sebelumnya berhasil meredam perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 lalu.
Meski Pakistan terus berupaya menjadi jembatan bagi kedua belah pihak, kemajuan diplomatik tampak jalan di tempat. Sejauh ini, hanya ada satu sesi negosiasi selama 21 jam yang diadakan di Islamabad pada 11 April, namun pertemuan tersebut berakhir tanpa kesepakatan berarti.
BACA JUGA:Iran: Tak Ada Perundingan Selama Blokade AS Masih Berjalan
BACA JUGA:Tegang Jelang Perundingan Kedua: Kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Laut Arab
Patroli marinir AS di Laut Arab dekat Teluk Oman melanjutkan blokade Maritim AS terhadap pelabuhan-pelabuhan di Iran -US Centcom-
Baqaei mengkritik keras sikap Amerika Serikat yang dinilai bertolak belakang antara retorika perdamaian dan tindakan di lapangan. "Sejak awal gencatan senjata, kami telah menghadapi itikad buruk dan keluhan terus-menerus dari Washington," ujarnya kepada wartawan.
Salah satu poin gesekan utama adalah status Lebanon, di mana Washington mengklaim wilayah tersebut tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata, meskipun Pakistan sebagai mediator telah menegaskan sebaliknya.
BACA JUGA:Iran Bersumpah Balas Penembakan AS Terhadap Kapal Touska di Teluk Oman
BACA JUGA:Iran Enggan Datang, Perundingan Islamabad Terancam Batal
Kekecewaan Iran semakin diperparah dengan "pengalaman sangat mahal" yang mereka alami selama setahun terakhir. Baqaei menyatakan bahwa Amerika Serikat telah "mengkhianati diplomasi sebanyak dua kali" melalui serangan terhadap kedaulatan dan aset-aset Iran, yang memicu rasa tidak percaya yang mendalam terhadap proses perundingan saat ini.
Insiden Kapal Touska dan Blokade Maritim
Situasi di lapangan semakin runyam dengan insiden di Selat Hormuz pada Minggu malam. Sebuah kapal kargo besar berbendera Iran, Touska, ditembaki oleh Angkatan Laut AS sebelum disita oleh prajurit Marinir.
Presiden AS Donald Trump, melalui unggahan di media sosial, mengonfirmasi bahwa kapal perusak AS telah melubangi ruang mesin kapal Touska untuk memaksanya berhenti karena dianggap mencoba menerobos blokade angkatan laut.