Merengut di Ruang Oval
ILUSTRASI Merengut di Ruang Oval.-Arya/AI-Harian Disway-
SAYA ingat, waktu saya kecil di kampung, ada sepasang suami istri yang selalu kompak. Kalau satu kena masalah, yang lain langsung bela mati-matian. Mereka seperti satu jiwa. Namun, suatu hari bisnis mereka bangkrut. Utang menumpuk. Mereka mulai bertengkar. Sekarang kalau ketemu di jalan, mereka masih saling sapa. Tapi, senyumnya berbeda. Ada beban di balik senyum itu.
Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu seperti itu.
Pertemuan mereka di Gedung Putih, 28 Juli 2026, adalah pertemuan dua orang yang dulu saling mencintai, tapi sekarang mulai saling mencurigai.
Februari lalu mereka merencanakan perang bersama melawan Iran. Yakin perang selesai dalam hitungan pekan. Sudah membayangkan kemenangan. Sudah membayangkan pujian.
BACA JUGA:Netanyahu Temui Trump di Gedung Putih, Iran Jadi Agenda Utama Pembahasan
BACA JUGA:Bertemu Trump, Zelensky Kantongi Lisensi Produksi Rudal Patriot untuk Ukraina
Namun, Iran tidak membaca skenario mereka.
Perang berlarut-larut. Bulan berganti bulan. Iran tidak menyerah. Malah Iran memblokade Selat Hormuz. Harga minyak naik. Harga BBM melonjak. Rakyat AS mulai mengeluh.
Trump mulai mikir. Pemilu paruh waktu tinggal 100 hari lagi.
Netanyahu juga panik. Pemilu Israel tinggal beberapa bulan lagi.
Mereka berdua butuh sesuatu dari satu sama lain. Tapi, keduanya sudah tidak percaya.
Pertemuan 28 Juli itu terjadi tanpa karpet merah. Tanpa konferensi pers. Tanpa foto mesra. Hanya pintu tertutup dan 90 menit percakapan yang tidak pernah kita dengar.
BACA JUGA:Negara-Negara Mitra Dagang AS Ramai-Ramai Kecam Tarif Baru Trump
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: