Merengut di Ruang Oval
ILUSTRASI Merengut di Ruang Oval.-Arya/AI-Harian Disway-
Itu seperti pertengkaran rumah tangga yang berlarut-larut. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang mau menang. Semua orang kelelahan.
Ketiga: Iran akan terus menyerang.
Iran tahu bahwa AS sedang sibuk dengan pemilu. Iran tahu bahwa Israel sedang sibuk dengan pemilu. Iran tahu bahwa kali ini adalah kesempatan terbaik.
Mereka akan terus menguji batas. Mungkin dengan rudal lagi. Mungkin dengan blokade yang lebih ketat. Mungkin dengan provokasi lain.
Mereka tidak akan menyerang langsung. Tapi, mereka akan membuat semua orang gelisah. Sebab, bagi Iran, kekacauan adalah senjata.
Keempat: Netanyahu akan makin kikuk.
Di Israel, Netanyahu menghadapi pemilu 27 Oktober 2026. Popularitasnya turun. Publik lelah perang. Mereka lelah dengan korban. Mereka lelah dengan ketidakpastian.
AS tidak lagi sepenuhnya mendukungnya. Sekutu di kawasan mulai ragu. Lawan politik di dalam negeri makin vokal.
Netanyahu butuh kemenangan. Tapi, kemenangan tidak kunjung datang. Jika ia kalah, kariernya berakhir. Jika menang, ia tetap harus menghadapi realitas bahwa ia kehilangan kepercayaan di mata dunia.
Kelima: harga minyak akan terus terbang.
Ini yang paling pasti.
Iran terus memblokade Selat Hormuz. Harga minyak terus naik. Subsidi BBM Indonesia akan membengkak. APBN akan terganggu. Harga pangan akan naik. Rakyat akan susah.
Saya tidak bisa menghentikan perang di Timur Tengah. Anda juga tidak bisa. Pemerintah Indonesia pun tidak bisa.
Yang bisa kita lakukan hanya bersiap. Menghitung skenario terburuk. Menghemat energi. Mencari sumber alternatif. Melindungi rakyat dari lonjakan harga.
Sebab, perang di Timur Tengah bukanlah tontonan. Ia adalah tontonan yang kita bayar. Lewat harga BBM. Lewat harga pangan. Lewat inflasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: