Merengut di Ruang Oval

Merengut di Ruang Oval

ILUSTRASI Merengut di Ruang Oval.-Arya/AI-Harian Disway-

Tiga Jalan Berbahaya

Dalam pertemuan itu, mereka membahas tiga opsi.

Opsi pertama: diplomasi. Kirim utusan. Coba negosiasi. Mungkin Iran mau berhenti.

Netanyahu skeptis. ”Iran tidak akan tulus,” katanya. Tapi, Trump punya alasan kuat. Pemilu. Rakyatnya tidak peduli Iran. Mereka hanya peduli harga BBM.

Opsi kedua: tekanan ekonomi. Perketat blokade. Perketat sanksi. Buat Iran menderita. Netanyahu setuju. Tapi, Iran sudah terbiasa. Sanksi adalah makanan sehari-hari bagi mereka.

Opsi ketiga: perang. Hantam fasilitas nuklir yang tersisa. Habisi sekali jalan. Tapi, kali ini Netanyahu tidak mendorong opsi itu.

Kenapa? Mungkin karena ia sudah capek. Mungkin karena ia sadar Trump muak. Mungkin karena ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan: jaminan bahwa Israel tetap bisa bertindak sendiri jika Iran menyerang lebih dulu.

Trump, di luar dugaan, malah meremehkan ancaman. Pagi itu, di Fox News, ia berkata, ”saya tidak butuh Bibi untuk memberi tahu saya tentang Gunung Pickaxe.” Gunung Pickaxe adalah situs nuklir bawah tanah Iran yang menjadi fokus intelijen Israel.

Trump menyebutnya ”bukan masalah besar”.

Bayangkan, Anda membawa data-data penting ke atasan. Anda sudah menyiapkan slide, grafik, dan peta. Namun, atasan Anda malah bilang, ”ah, itu mah bukan apa-apa.”

Itulah yang dirasakan Netanyahu hari itu.

Rudal dan Sinyal

Yang membuat cerita ini tambah absurd, tepat saat mereka berdua duduk di Ruang Oval, Iran meluncurkan rudal ke pangkalan AS di Yordania. Rudal itu berhasil dicegat. Tapi, pesannya sampai: ”Kami masih ada. Kami masih bisa memukul.”

Itu bukan kebetulan. Iran mengirim sinyal dengan sengaja.

Sama dengan kita kadang sengaja memosting status di media sosial supaya mantan kita baca. Iran melakukan itu. Tapi, dengan rudal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: