Raja Meme, Keajaiban Parkiran, dan Minyak Seabad
ILUSTRASI Raja Meme, Keajaiban Parkiran, dan Minyak Seabad-Arya/AI-Harian Disway-
SIANG itu Bali panasnya minta ampun. Matahari seperti diturunkan satu lantai. Jaraknya dengan ubun-ubun mungkin tinggal sejengkal. Dalam perjalanan pulang dari kampus, saya mampir ke sebuah minimarket. Niatnya sederhana: cari minuman dingin sebelum kepala ikut mendidih.
Di parkiran berdiri seorang bapak. Wajahnya disetel semelas mungkin. Salah satu tangannya ditekuk kaku, disembunyikan di balik kemeja lusuh. Dari penampilannya, saya menduga tangannya patah. Atau, setidaknya mengalami cedera berat.
Saya kasihan. Saya keluarkan lima ribu rupiah. Lalu, mukjizat terjadi. Begitu uang berpindah tangan, tangan yang tadi tampak hampir lumpuh itu keluar sempurna dari balik baju.
Lurus. Utuh. Berfungsi. Tanpa dokter. Tanpa fisioterapi. Tanpa antre BPJS.
BACA JUGA:Meme dan Negara yang Serius
BACA JUGA:Venezuela, ketika Hukum Tunduk pada Minyak
Lebih ajaib lagi, beberapa detik kemudian tangan yang baru ”sembuh” itu sudah lincah melambai-lambai memberikan aba-aba kepada sebuah Pajero yang hendak mundur. Saya terpaku.
Lima ribu rupiah ternyata bukan sekadar alat pembayaran. Ia juga punya khasiat ortopedi. Kita boleh tertawa melihat kelakuan kang parkir ajaib itu. Tetapi, kalau dipikir-pikir, panggung geopolitik dunia sekarang tidak terlalu berbeda.
Semua sedang bermain sandiwara. Ada yang pura-pura lumpuh. Ada yang pura-pura kuat. Ada yang sibuk berteriak perang. Ada pula yang diam-diam menghitung keuntungan. Bedanya, kalau kang parkir bermain untuk lima ribu rupiah, para elite dunia bermain dengan kapal induk, rudal, minyak, algoritma, mineral kritis, dan triliunan dolar.
Potong Rumput
Mari pindahkan parkiran minimarket tadi ke Teluk Persia. Di sana mesin perang Amerika Serikat (AS) menunjukkan taringnya. Jet tempur beterbangan. Radar diburu. Rudal ditembakkan. Kapal perang digeser. Langit dipenuhi teknologi miliaran dolar.
Nama operasinya bahkan terdengar santai: ”potong rumput”. Seperti agenda kerja bakti kompleks hari Minggu. Hanya, rumput yang dipotong bukan ilalang. Yang terbakar adalah radar, instalasi militer, infrastruktur, dan uang pajak.
Pemandangannya memang garang. Tetapi, perang abad ke-21 mempunyai ironi yang berbeda. Makin mahal senjatanya, makin murah kadang cara lawan mengacaukannya.
Satu rudal bisa berharga jutaan dolar. Satu meme? Nyaris gratis. Dan, justru di situlah medan perang baru sedang dibuka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: