Raja Meme, Keajaiban Parkiran, dan Minyak Seabad
ILUSTRASI Raja Meme, Keajaiban Parkiran, dan Minyak Seabad-Arya/AI-Harian Disway-
Raja Meme
Ketika pangkalan militer AS berada di bawah tekanan dan rudal-rudal balasan mulai menjadi berita, Donald Trump justru melakukan sesuatu yang sangat Trump: menguasai layar.
Meme. Sindiran. Peta. Lelucon politik. Kanada ikut diseret.
Banyak orang menganggapnya sekadar kegaduhan digital seorang politikus yang gemar mencari perhatian. Saya melihatnya berbeda. Itulah wajah paling murah dari cognitive warfare.
Dalam perang klasik, musuh berusaha merebut wilayah. Dalam perang informasi, musuh merebut narasi. Dalam perang kognitif, yang direbut adalah perhatian manusia.
Itu jauh lebih berbahaya. Sebab, perhatian adalah pintu masuk menuju persepsi. Persepsi membentuk emosi. Emosi memengaruhi keputusan politik.
Algoritma media sosial memahami satu hal yang juga dipahami para politikus populis: kemarahan adalah bahan bakar. Makin kontroversial sebuah unggahan, makin panjang umur beritanya. Makin lama publik berdebat tentang meme, makin sedikit waktu mereka bertanya:
Berapa biaya perang ini? Berapa rudal yang sudah ditembakkan? Berapa lama stoknya cukup? Berapa kapal yang harus dipindahkan? Dan, siapa yang sebenarnya membayar semua itu?
Sebuah rudal Tomahawk bisa menghilang dalam beberapa menit setelah diluncurkan. Sebuah JPEG bisa terbang keliling dunia selama dua hari.
Murah. Efektif. Menyebalkan. Itulah ekonomi perhatian dalam peperangan modern. Tetapi, Kanada tampaknya memahami permainan yang sama. Ketika panggung depan dipenuhi perang meme, panggung belakang tetap bekerja.
Diplomasi. Perdagangan. Mineral kritis. India. Kontrak. Investasi.
Di sinilah politik internasional terasa seperti permainan sulap. Tangan kanan membuat penonton melihat sapu tangan. Tangan kiri mengambil dompet. Ketika ”Raja Troll” sibuk merebut perhatian dunia maya, negara lain justru sibuk menghitung keuntungan di dunia nyata.
Senjata Bernama Birokrasi
Sekarang kita bergeser ke Selat Hormuz. Selama ini kita terbiasa membayangkan penguasaan selat strategis melalui kapal perang, ranjau laut, rudal antikapal, drone, atau kapal selam. Itu cara lama.
Iran memperlihatkan kemungkinan lain: lawfare. Perang melalui hukum.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: