Raja Meme, Keajaiban Parkiran, dan Minyak Seabad

Raja Meme, Keajaiban Parkiran, dan Minyak Seabad

ILUSTRASI Raja Meme, Keajaiban Parkiran, dan Minyak Seabad-Arya/AI-Harian Disway-

Jenderal Mulai Masuk Angin

Di sinilah persoalan AS menjadi lebih serius. Persenjataan canggih tidak otomatis berarti daya tahan tanpa batas. Militer mempunyai jam kerja. Kapal membutuhkan perawatan. Pilot membutuhkan rotasi. Rudal harus diproduksi kembali. Awak kapal bisa lelah. Industri pertahanan mempunyai kapasitas. Anggaran pun mempunyai ujung.

Dalam studi strategi, ada istilah yang sederhana tetapi kejam: strategic overstretch. Kekuatan diperluas melampaui kemampuan mempertahankannya. Itulah penyakit klasik imperium. Bukan karena mereka kekurangan kekuatan. Justru karena mereka mempunyai terlalu banyak kepentingan.

Eropa. Timur Tengah. Indo-Pasifik. Laut Merah. Taiwan. Ukraina. Israel. Iran. Energi. Perdagangan. Siber. Semikonduktor. Rantai pasok. Semua dianggap penting.

Masalahnya, kalau semuanya prioritas, sebenarnya tidak ada lagi yang benar-benar prioritas. Negara adidaya akhirnya seperti orang yang mempunyai sepuluh kompor, tetapi hanya dua tangan.

Semua api menyala. Semua panci harus dijaga. Lalu, heran ketika dapurnya mulai berasap.

Ketika muncul keberatan dari kalangan militer terhadap tempo operasi, persoalannya bukan sekadar beda pendapat antara jenderal dan pejabat sipil. Itu alarm.

Mesin masih hidup. Namun, temperatur mulai naik.

Putin Tidak Perlu Menembak

Di ujung lain papan catur, Vladimir Putin mungkin melihat semua itu dengan cara yang sangat berbeda. Rusia tidak perlu mengalahkan AS di setiap front. Cukup memastikan AS harus membayar mahal untuk mempertahankan terlalu banyak front sekaligus.

Di sinilah filosofi judo berlaku. Jangan melawan tenaga lawan dengan tenaga yang sama besar. Gunakan momentum lawan untuk menjatuhkannya.

Kalau Washington menghabiskan perhatian, uang, amunisi, dan energi politik di Timur Tengah, tekanan terhadap Rusia di Eropa Timur otomatis mempunyai ruang untuk berubah.

Strategi terbaik kadang bukan menciptakan krisis baru. Cukup membiarkan lawan tenggelam dalam terlalu banyak krisis yang sudah ada.

Maka, diplomasi tetap berjalan. Intelijen tetap berbicara. Backchannel tetap dibuka. Para kepala negara tetap berpelukan di forum internasional.

Karena perang modern memang aneh. Di satu meja orang saling mengancam. Di meja lain staf mereka minum teh. Pagi mengirim rudal. Malam bertukar pesan. Besoknya kembali berpidato tentang perdamaian. Tidak ada kontradiksi. Itulah geopolitik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: