Perang di Kepala Kita
ILUSTRASI Perang di Kepala Kita.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
BEBERAPA waktu lalu, grup WhatsApp keluarga saya mendadak gaduh. Seorang kerabat membagikan video yang memancing amarah seisi grup. Belakangan ketahuan, video itu palsu alias suntingan AI yang nyaris sempurna.
Namun, sebelum sempat diklarifikasi, ia sudah telanjur diteruskan ke tiga grup lain. Ketika saya tanya mengapa buru-buru membagikannya, jawabannya jujur dan justru membuat saya merenung lama: ”kok, rasanya pas, ya, sama yang saya pikirkan!”
Kalimat terakhir itu mengganggu saya sampai sekarang. Sebab ”rasa pas” semacam itu jarang datang sebagai kebetulan. Ia diproduksi. Dirancang. Dan, di situlah masalah besarnya.
Tanpa kita sadari, kita hidup di tengah perang yang tidak dimulai dengan dentuman meriam. perang ini datang lewat layar ponsel yang kita tatap sejak mata terbuka di pagi hari, menyusup ke lini masa, lalu bertempur di dalam kepala.
BACA JUGA:Terjebak dalam Perang yang Tidak Kita Deklarasikan
BACA JUGA:Petaka Perang di Ujung Selat
Sasarannya bukan wilayah, bukan sumber daya alam, melainkan atensi, emosi, dan cara kita berpikir. Para ahli menyebutnya perang kognitif. Saya sendiri menyebutnya perampokan pelan-pelan atas akal sehat kita.
Lihatlah angka-angkanya. Data APJII 2025‒2026 mencatat penetrasi internet nasional sudah mencapai 82,3 persen. Anak-anak muda kita menghabiskan 7,5 sampai 8 jam sehari di media sosial. Itu lebih lama daripada jam sekolah, bahkan lebih lama daripada waktu tidur.
Bagi generasi Z dan alpha yang kelak memikul Indonesia Emas 2045, ruang digital bukan lagi ”dunia maya”. Di sanalah mereka bergaul, membentuk pendapat, mencari jati diri, bahkan menentukan pilihan politik.
Nah, ruang itu tidak pernah netral. Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism (2019) membongkar praktiknya: data perilaku kita dipanen, diolah, lalu dipakai untuk memprediksi –bahkan mengarahkan– apa yang akan kita lakukan.
BACA JUGA:Telepon Penangkis Perang
BACA JUGA:Ketika Perang Tak Mengenal Musim Semi
Algoritma rekomendasi tidak dirancang untuk membuat kita lebih bijak. Ia dirancang agar kita betah. Dan, apa yang paling ampuh membuat orang betah? Konten yang membakar amarah, prasangka, dan permusuhan antaridentitas.
Maka, lahirlah ilusi yang saya singgung di muka: kita merasa bebas memilih informasi, padahal daftar menunya sudah dikurasi mesin. Kita merasa sedang berpendapat, padahal sedang digiring. Lama-kelamaan kita terkurung dalam gelembung –bergaul hanya dengan yang sependapat, membenci yang berbeda, dan pelan-pelan kehilangan kemampuan mendengar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: