Mengungsi dari Rumah Sendiri
ILUSTRASI Mengungsi dari Rumah Sendiri.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
PADA 20 Juni lalu, masyarakat global memperingati Hari Pengungsi Sedunia. Momentum itu mengingatkanku pada Manusia Perahu Rohingya yang meninggalkan rumah gegara konflik berkepanjangan. Kisah mereka mengingatkan bahwa rumah bukan sekadar bangunan, melainkan juga tempat seseorang merasa aman untuk pulang.
Bagi banyak orang, kisah Rohingya menjadi simbol bahwa pengungsian selalu lahir dari perang, konflik, atau kekerasan.
Namun, benarkah seseorang hanya dapat kehilangan rumah karena perang?
Awal Juni 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa banjir masih berpotensi terjadi meskipun sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau.
Peringatan tersebut mengingatkan bahwa hujan yang dulu dianggap biasa kini dapat berubah menjadi bencana ketika bertemu dengan sungai yang dangkal atau tersumbat serta kawasan yang kehilangan daya resap.
BACA JUGA:Banjir Terjang Demak, 583 Jiwa Mengungsi dan Satu Warga Dilaporkan Hilang
BACA JUGA:Tanah Bergerak di Tegal Masih Berlanjut, 2.453 Jiwa Mengungsi, Pemprov Jateng Ungkap Penyebabnya!
Beberapa hari kemudian, tujuh ratusan warga Manado mengungsi karena banjir. Banjir juga melanda Mumbulsari, Jember. Di Bali, banjir bahkan menimbulkan korban jiwa. Peristiwa-peristiwa tersebut berbeda lokasi, tetapi menyampaikan pesan yang sama: rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung dapat berubah menjadi tempat yang tidak lagi aman untuk ditinggali.
Makin banyak orang kehilangan rumah bukan karena konflik, melainkan karena lingkungan tempat mereka tinggal perlahan tidak lagi aman.
Ketika Kita Dipaksa Pergi
Apa yang sebenarnya hilang ketika seseorang harus meninggalkan rumahnya?
Yang hilang bukan hanya atap dan dinding atau dokumen penting. Yang hilang adalah rutinitas yang selama ini terasa biasa: bercengkerama bersama ayah dan ibu, bermain bersama tetangga, duduk di teras rumah saat sore tiba, atau sekadar menikmati ketenangan karena tahu ke mana harus pulang.
Ketika seseorang mengungsi, yang berpindah bukan hanya tubuhnya. Sebagian kehidupannya ikut berpindah.
Karena itu, perpindahan akibat bencana tidak dapat dipahami sekadar sebagai statistik. Namun, angka-angka menunjukkan bahwa persoalan itu kian nyata. Climate Displacement and Resilience Database mencatat sekitar 4,2 juta perpindahan internal akibat banjir di Indonesia selama periode 2008–2021.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: