Mengungsi dari Rumah Sendiri

Mengungsi dari Rumah Sendiri

ILUSTRASI Mengungsi dari Rumah Sendiri.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Salah satu yang terbesar terjadi di Jakarta pada 2020, ketika banjir mengakibatkan sekitar 397.000 orang mengungsi. 

Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian masyarakat mengalami pengungsian berulang akibat banjir. Bagi mereka, keadaan darurat bukan lagi peristiwa sesaat, melainkan pengalaman yang terus kembali. 

Fenomena itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai belahan dunia, perubahan iklim memperbesar risiko perpindahan penduduk melalui curah hujan ekstrem, kenaikan muka air laut, kekeringan, dan degradasi lingkungan. 

Ketika Ancaman Bersekutu 

Rumah tidak selalu hilang karena satu bencana. Sering kali rumah hilang ketika berbagai ancaman bersekutu. Perubahan iklim merupakan salah satu ancaman tersebut. Namun, perubahan iklim jarang bekerja sendirian. Ia memperbesar berbagai kerentanan yang sudah ada. 

Curah hujan yang makin ekstrem belum tentu berubah menjadi bencana jika sungai masih memiliki daya tampung dan kawasan resapan masih berfungsi. Namun, ketika hujan ekstrem bertemu sungai yang dangkal dan saluran yang tersumbat sampah, risiko banjir meningkat drastis. 

Itulah yang oleh banyak peneliti disebut sebagai pengganda ancaman (threat multiplier). Perubahan iklim tidak selalu menciptakan persoalan baru, tetapi memperburuk berbagai persoalan yang ada. 

Karena itu, banjir yang memaksa masyarakat meninggalkan rumahnya sering kali bukan semata akibat hujan, melainkan hasil pertemuan berbagai ancaman yang saling memperkuat. 

Fenomena serupa terlihat dalam skala global. Curah hujan ekstrem, kekeringan, kenaikan muka air laut, dan degradasi lingkungan membuat makin banyak wilayah kehilangan kemampuan untuk menopang kehidupan secara aman. Akibatnya, rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempat berlindung perlahan kehilangan fungsi dasarnya: memberikan rasa aman. 

Jika tren itu terus berlanjut, Bank Dunia memperkirakan lebih dari 200 juta orang berpotensi berpindah akibat dampak perubahan iklim pada 2050. Ancaman kehilangan rumah bukan lagi persoalan masa depan. Ia sudah berlangsung di berbagai tempat, termasuk di sekitar kita. 

Pertanyaannya kemudian, apakah kita sepenuhnya korban dari krisis itu?

Menjaga Rumah dari Hulu 

Jawabannya tidak sesederhana itu. 

Sebagian ancaman memang berada di luar kendali kita, seperti perubahan iklim global. Namun, sebagian lainnya lahir dari keputusan-keputusan yang kita ambil setiap hari, termasuk dalam memperlakukan sampah rumah tangga. 

Selama ini sampah sering dipandang sebagai persoalan kebersihan. Padahal, dampaknya jauh lebih luas. Sampah yang terlepas ke sungai dapat memperparah banjir karena menyumbat drainase, sedangkan sampah yang menumpuk di tempat pemrosesan akhir akan menghasilkan gas metana yang mempercepat pemanasan global. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: