Xi Jinping Mengetuk Pintu
ILUSTRASI Xi Mengetuk Pintu.-Arya/AI-Harian Disway-
DI Timor ada satu tahapan sebelum orang terlalu bersemangat membicarakan pertunangan dan perkawinan. Namanya ketuk pintu. Beberapa hari lalu keluarga kami melakukannya.
Adik ipar saya belum bertunangan. Keluarga laki-laki datang lebih dahulu kepada keluarga perempuan. Menyampaikan maksud. Meminta izin. Keluarga perempuan mendengarkan.
Tidak boleh langsung masuk. Apalagi, langsung menentukan tanggal nikah. Bisa perang dunia ketiga antarkeluarga.
Ketuk pintu sebenarnya mengajarkan diplomasi dalam bentuk yang paling sederhana: datang baik-baik, sampaikan kepentingan, hormati tuan rumah, lalu jangan merasa semua keinginan harus dikabulkan.
Saya memikirkan itu ketika membaca perkembangan pertemuan Amerika Serikat dan Tiongkok. Bedanya, yang mengetuk pintu kali ini Presiden Tiongkok Xi Jinping. Rumahnya Donald Trump.
BACA JUGA:Donald Trump versus Xi Jin Ping Babak Kedua: El Clasico yang Berdampak ke Perekonomian Global
BACA JUGA:Presiden Tiongkok Xi Jinping Dorong BRICS Ambil Peran dalam Upaya Perdamaian di Timur Tengah
Dan, yang dibicarakan bukan mahar. Ada perdagangan. AI. Mineral kritis. Iran. Dan, satu perkara yang jauh lebih rumit daripada menentukan jumlah undangan pernikahan: Taiwan.
Jangan Lihat Senyum
Pertemuan Trump dan Xi selalu menarik. Dua-duanya tahu kamera sedang mengarah kepada mereka. Jabat tangan harus pas. Senyum harus cukup. Tidak boleh terlalu dingin. Terlalu hangat juga nanti analis curiga.
Begitulah nasib pemimpin dua negara besar. Cara duduk saja bisa dianalisis berlembar-lembar.
Hasil sementara pertemuan kali ini menurut saya belum menunjukkan perubahan geopolitik yang fundamental.
Ada satu perkembangan positif: Amerika Serikat dan Tiongkok memperpanjang gencatan perang dagang hingga 10 Januari 2027.
Pasar tentu menyukainya. Pengusaha juga. Saya pun menyukainya. Setidaknya PowerPoint geopolitik untuk mahasiswa tidak perlu direvisi total minggu depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: