Xi Jinping Mengetuk Pintu

Xi Jinping Mengetuk Pintu

ILUSTRASI Xi Mengetuk Pintu.-Arya/AI-Harian Disway-

BACA JUGA:Kunjungan Xi Jinping ke Pyongyang, Kemesraan Lama yang Tersandung Nuklir

BACA JUGA:Klaim-Klaim Donald Trump Pasca Pertemuan dengan Xi Jinping: Singgung Kesepakatan Dagang Fantastis

Namun, jangan buru-buru mengatakan Washington dan Beijing sudah akur. Mereka hanya sepakat belum perlu berkelahi lebih keras. Itu berbeda.

Saya melihat keduanya memang mempunyai alasan untuk menahan diri.

Washington sedang menghadapi terlalu banyak persoalan sekaligus. Timur Tengah belum stabil. Persaingan teknologi terus berjalan. AI makin strategis. Mineral kritis menjadi persoalan keamanan nasional.

Beijing juga membutuhkan stabilitas. Perang tarif baru tidak otomatis menguntungkan Tiongkok. Jadi, keduanya seperti dua tetangga yang sedang berselisih, tetapi sepakat pagar rumah jangan dibakar dulu.

Masuk akal. Masalahnya, di belakang rumah ada Taiwan.

BACA JUGA:Usai Bertemu Xi Jinping, Trump Minta Taiwan Jangan Deklarasikan Kemerdekaan

BACA JUGA:Pertemuan ’’Istimewa” Presiden AS Donald Trump-Presiden Tiongkok Xi Jinping

Taiwan di Meja

Di sinilah saya mulai lebih berhati-hati. Tiongkok kembali menekan AS mengenai penjualan senjata kepada Taiwan. Sementara itu, paket persenjataan AS sekitar USD14 miliar masih tertahan.

Kebetulan? Bisa saja. Bagian dari negosiasi yang lebih luas? Mungkin. Bukti bahwa Trump sudah menukar Taiwan dengan bantuan Tiongkok mengenai Iran? Belum.

Dan, kata belum itu penting. Kita sekarang hidup di zaman ketika satu unggahan media sosial dapat berubah menjadi ”analisis geopolitik” dalam lima menit.

Jam keenam sudah menjadi teori konspirasi. Besoknya masuk grup WhatsApp keluarga. Kalau sudah masuk grup keluarga, biasanya persoalannya menjadi makin sulit diluruskan.

Karena itu, analisis harus tahu kapan berhenti. Fakta yang kita miliki saat ini sederhana. Beijing ingin Washington mengurangi dukungan persenjataan kepada Taiwan. Washington mempunyai sejumlah kepentingan yang membutuhkan komunikasi dengan Beijing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: