Dolar AS Menguat dan The Fed Naikkan Suku Bunga, Rupiah Tertekan ke Level Rp17.753

Dolar AS Menguat dan The Fed Naikkan Suku Bunga, Rupiah Tertekan ke Level Rp17.753

Merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memicu sentimen negatif pasar. --pinterest

JAKARTA, HARIAN DISWAY- Indeks dolar Amerika Serikat (AS) terpantau menguat pada perdagangan Kamis 17 September 2026.

Penguatan mata uang Paman Sam ini dipicu oleh dinamika global. Termasuk keputusan bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga, yang kemudian turut membayangi pergerakan rupiah di pasar domestik.

Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memaparkan, sejumlah sentimen eksternal dan internal yang mendasari pergerakan pasar keuangan saat ini.

Dari kancah global, pasar merespon positif adanya pembicaraan antara AS dan kelompok Houthi di Yaman yang membantu meredakan kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah. Berdasarkan laporan Reuters, Houthi menegaskan komitmen terhadap gencatan senjata 2025 serta tidak akan menyerang kapal-kapal AS maupun Israel. Kendati Presiden AS Donald Trump menyatakan optimisme terkait potensi kesepakatan damai dengan Iran, Washington dan Teheran nyatanya masih berselisih mengenai keamanan jalur vital Selat Hormuz.

BACA JUGA:Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.507, Didorong Penjualan Ritel dan Konsumen Solid

BACA JUGA:Prabowo Mau Bunga Kredit Motor Listrik Diturunkan, DP Diupayakan Nol Rupiah

Tekanan eksternal kian terasa setelah Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan secara bulat menaikkan suku bunga acuan federal funds rate ke kisaran 3,75 persen hingga 4,0 persen. "Ini menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak Juli 2023," kata Ibrahim.

Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Kevin Warsh mengisyaratkan potensi kenaikan lanjutan akibat inflasi yang masih tinggi. Langkah tersebut langsung memantik gesekan baru setelah Presiden Trump secara terbuka menuntut The Fed memangkas suku bunga menjadi 1 persen atau lebih rendah.

Di dalam negeri, Ibrahim menyoroti langkah strategis pemerintah melalui Menteri Keuangan Suhasil yang berkomitmen menjaga kesehatan fiskal. APBN terus dioptimalkan sebagai instrumen pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus penjaga stabilitas nasional melalui konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan ekspor.

Menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22–23 September 2026, ruang bagi bank sentral untuk kembali mengerek suku bunga dinilai semakin menyempit. Kebijakan pre-emptive BI sebelumnya yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin dinilai sangat presisi dan melampaui agresivitas The Fed.  "Sehingga BI tidak perlu tergesa-gesa mengubah arah kemudi moneter," paparnya. 

Ditopang fundamental makroekonomi yang kuat, mulai dari stabilnya nilai tukar rupiah, derasnya aliran modal asing (capital inflow), hingga disiplin fiskal, BI memiliki ruang yang cukup untuk memantau situasi tanpa tambahan pengetatan.

Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah melemah 57 poin (sempat menyentuh pelemahan 60 poin) ke level Rp17.753 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.696. Untuk perdagangan esok hari, mata uang Garuda diproyeksikan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah pada rentang Rp17.750 hingga Rp17.790 per dolar AS. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: