Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.507, Didorong Penjualan Ritel dan Konsumen Solid

Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.507, Didorong Penjualan Ritel dan Konsumen Solid

ILUSTRASI FGD Bank Indonesia-Akademisi dan Peneliti 29 Juli–1 Agustus 2026 (2): Inovasi untuk Memperkuat Rupiah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

JAKARTA, HARIAN DISWAY - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu sore, 9 September 2026, tercatat menguat cukup tajam sebesar 125 poin ke level Rp17.507 per USD (dolar AS). 

Ibrahim Assuaibi, analis mata uang dan komoditas, mengatakan bahwa pergerakan mata uang Garuda ini didorong oleh kombinasi data internal domestik yang solid. Di tengah bayang-bayang tekanan eksternal global.

"Pasar melihat data internal yang cukup bagus sehingga membuat pasar optimis. Ditandai dengan arus modal asing yang kembali masuk ke dalam negeri," terang Ibrahim dalam analisanya. 

Ibrahim menjelaskan, salah satu motor penggerak domestik yang menopang rupiah adalah rilis data penjualan ritel Indonesia yang melonjak cukup tinggi pada Agustus lalu. Penjualan ritel melesat hingga 7,7 persen dengan pencapaian mencapai 83.422 unit.

BACA JUGA:Rupiah Menguat di Hari Kemerdekaan, Ditopang Penurunan Data Konsumen AS dan Pidato APBN 2027

BACA JUGA:Prabowo Mau Bunga Kredit Motor Listrik Diturunkan, DP Diupayakan Nol Rupiah

Momentum itu menjadi angin segar bagi para pelaku industri otomotif nasional. Mereka mendulang peningkatan penjualan signifikan hingga menyentuh kisaran hampir 80.000 unit menjelang akhir tahun 2026.

Selain sektor ritel, tingkat keyakinan konsumen Indonesia juga menunjukkan tren yang sangat positif di luar ekspektasi pasar. Indeks keyakinan konsumen berada pada level 118,5. Itu pencapaian terbaik sejak Januari 2026.

Menurut Ibrahim, membaiknya indeks keyakinan tersebut memperkuat optimisme pemerintah bahwa target pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga di kisaran 5,3 persen akan dapat tercapai dengan baik.

Kendati demikian, penguatan rupiah itu terjadi di tengah dinamika faktor eksternal yang cukup menantang. Ibrahim menyoroti eskalasi geopolitik global yang semakin memanas, terutama di kawasan Timur Tengah menyusul pertukaran serangan antara Iran dan Amerika Serikat.

BACA JUGA:Rupiah Menguat, Penunjukan Destry Damayanti Jadi Perhatian Ekonom Pasar Uang

BACA JUGA:Prediksi Rupiah Sepekan ke Depan: Terancam Defisit Neraca Perdagangan dan Situasi Geopolitik

Ketegangan regional turut terkerek naik setelah kelompok Houthi melancarkan serangan terhadap lima pangkalan di Arab Saudi. Aktivitas itu otomatis memanaskan situasi keamanan di jalur perairan Laut Merah.

Tekanan eksternal serupa juga terlihat di wilayah Eropa Timur. Konflik yang melibatkan Ukraina dan Rusia terus memicu ketidakpastian global, di mana wilayah Ukraina masih terus menghadapi gempuran serangan yang berdampak pada kerusakan infrastruktur perkotaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: