BI Tahan Suku Bunga di 5,75%, Begini Dampaknya ke Kurs Rupiah
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi -Ibrahim Assuaibi for Disway -
JAKARTA, HARIAN DISWAY-Kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% menjadi benteng utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gelombang penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS).
Langkah tepat diambil guna meredam tekanan eksternal. Sekaligus mendorong tren pertumbuhan ekonomi nasional.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 22–23 September 2026 ini sangat krusial untuk menjaga ketahanan kurs rupiah.
Dengan mempertahankan BI-Rate di angka 5,75%, diikuti suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%. Dengan sikap ini, kata Ibrahim, BI dinilai mampu menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika pasar keuangan global.
BACA JUGA:Dolar AS Menguat dan The Fed Naikkan Suku Bunga, Rupiah Tertekan ke Level Rp17.753
BACA JUGA:Rupiah Menguat di Hari Kemerdekaan, Ditopang Penurunan Data Konsumen AS dan Pidato APBN 2027
Ibrahim menjelaskan bahwa fokus utama BI saat ini adalah memastikan stabilitas kurs rupiah tetap terjaga di tengah sentimen global. Termasuk pernyataan para pejabat Federal Reserve (The Fed) yang mengindikasikan tekanan inflasi masih memerlukan suku bunga tinggi lebih lama. Selain itu, BI juga berkomitmen memperkuat kebijakan insentif untuk menarik aliran masuk modal asing serta mempercepat pendalaman pasar uang dan valuta asing.
Dampak ketahanan makroekonomi ini turut tercermin dari performa rupiah di pasar domestik. Pada perdagangan akhir pekan lalu, mata uang Garuda ditutup menguat 67 poin ke level Rp17.817 per dolar AS setelah sebelumnya sempat mencatatkan penguatan hingga 95 poin dari penutupan sebelumnya di level Rp17.884.
Meski demikian, untuk proyeksi perdagangan ke depan, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan ditutup melemah di rentang kisaran Rp17.810 hingga Rp17.860 per dolar AS. "Faktor eksternal seperti perundingan AS-Iran terkait Selat Hormuz dan arah kebijakan suku bunga The Fed masih akan menjadi bayangan yang membayangi pergerakan rupiah ke depan," terang Ibrahim. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: