HARIAN DISWAY - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM terus mendorong percepatan transisi energi nasional melalui pengembangan Proyek Bioetanol di Provinsi Lampung.
Proyek strategis yang rencananya akan mulai dikonstruksi pada kuartal III 2026 ini merupakan hasil kolaborasi antara Toyota, PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), dan Danantara Investment Management.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi pengembangan proyek ini secara intensif sejak satu tahun lalu.
“Saat ini sudah ada koordinasi antara PNRE dengan Japanese Group, dalam hal ini yang akan ditunjuk adalah Toyota Tsuho yang akan menjadi partner, dan akan didukung mitra teknologi lainnya dari Jepang seperti RaBIT (konsorsum riset beberapa perusahaan otomotif dan energi Jepang),” kata Todotua seusai memimpin pertemuan dengan CEO Toyota Motor Asia di Jakarta pada Senin, 20 April.
BACA JUGA: Bioetanol Jadi Solusi Saat Minyak Langka, Lia Istifhama Apresiasi Prabowo
BACA JUGA: Pakai Base Fuel dari Pertamina, Apakah Bensin Shell dan BP Mengandung Etanol?
Pengembangan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang memfokuskan kebijakan pemerintah pada tiga pilar utama, yaitu swasembada energi, ketahanan pangan, dan hilirisasi sumber daya alam.
Manfaat bioetanol sebagai bahan bakar yang ternyata ramah lingkungan dan bantu mengurangi pemanasan global.-Freepik-
Indonesia dinilai memiliki keunggulan komparatif yang kuat dengan cadangan nikel terbesar di dunia mencapai 42%, serta posisi sebagai produsen utama kelapa sawit dan kelapa global yang sangat berpotensi menjadi bahan baku bioenergi.
Todotua menjelaskan bahwa Lampung dipilih sebagai lokasi pembangunan karena ketersediaan bahan baku (feedstock) yang melimpah, seperti tebu, ubi, dan sorgum.
Proyek ini akan dilaksanakan dalam dua tahap, yakni tahap pilot project dengan kapasitas 60 kiloliter per tahun pada kuartal III 2027, serta tahap komersial sebesar 60.000 kiloliter per tahun pada kuartal IV 2028.
BACA JUGA: Tok! Indonesia Wajib Impor 1 Juta Kg Etanol/Tahun dari Amerika Serikat
BACA JUGA: RI Bisa Bikin Mobil Bahan Bakar Etanol, Alternatif saat Minyak Mahal
Pengembangan ini menggunakan teknologi generasi kedua (2G) yang memungkinkan pemanfaatan limbah biomassa seperti kelapa sawit, jagung, dan sorgum sebagai bahan baku.
Selain itu, proyek ini akan didukung oleh budidaya sorgum di lahan milik PTPN seluas 6.000 hektar untuk skala komersial pada 2027.
Langkah ini memperkuat komitmen pemerintah dalam roadmap mandatori pencampuran bioetanol dalam bahan bakar, yaitu E5 pada 2026-2027, meningkat menjadi E10 pada 2028-2030, hingga E20 dalam jangka panjang.
“Kita mendorong proyek ini dalam rangka untuk mempersiapkan komitmen roadmap mandatori menjadi E10, sehingga negara kita juga siap,” ujar Todotua.
Selain itu, ia juga menyoroti urgensi transisi energi mengingat tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar yang mencapai 61% dalam satu dekade terakhir, serta kerentanan harga minyak akibat dinamika geopolitik global.
BACA JUGA: Presiden Jokowi Luncurkan Program Bioetanol Tebu Untuk Ketahanan Energi
BACA JUGA: Pemerintah Tekankan Kebijakan Bioetanol Sebagai Upaya Akselerasi Kedaulatan Energi Nasional
Pemerintah juga mengapresiasi kontribusi Toyota dalam memajukan industri baterai kendaraan listrik di tanah air. Namun, pemerintah menilai masih terdapat ruang kerja sama yang lebar, terutama terkait pengembangan bioetanol yang berbasis pada ragam bahan baku.
“Kami mengapresiasi diskusi yang konstruktif dan progresif dengan stakeholders terkait untuk mengeksplorasi potensi kolaborasi di ekosistem bioenergi,” kata CEO Toyota Motor Asia Masahiko Maeda.
Ia juga menambahkan bahwa melalui kemitraan strategis dengan CATL di Indonesia, Toyota bertujuan memperluas kemampuan mereka, mulai dari perakitan battery pack hingga manufaktur sel dan modul baterai.
Hal ini bertujuan untuk memperkuat rantai pasok lokal sekaligus mendukung pendekatan Multi-Pathway perusahaan menuju netralitas karbon.(*)
*) Peserta Magang dari Universitas Trunojoyo Madura.