BAHASA SEBAGAI ALAT KESADARAN GENDER: ”TAK TERLIHAT” MENJADI ”TERLIHAT”
Kartini ingin perempuan diakui keberadaannyi. Dahlan mencoba membuat perempuan terlihat dalam bahasa. Kalimat ”ibunya datang, lalu dia duduk di kursinya”, tanpa konteks yang jelas, kalimat itu bisa bermakna ambigu, karena tidak terlihat apakah ibu dari seorang anak laki-laki atau perempuan.
Dengan inovasi kebahasaan ala Dahlan Iskan, keambiguan kalimat itu akan sirna. Kalimat ”ibunyi datang, lalu dia duduk di kursinyi”, penggunaan -nyi memperlihatkan bahwa ibu tersebut adalah ibu dari seorang anak perempuan.
Di sini, bahasa menjadi alat gender awareness: apa yang sebelumnya samar menjadi eksplisit.
Memang alih-alih hanya menggunakan -nya secara umum, kemudian memberikan pembeda berupa -nyi khusus untuk orang ketiga tunggal perempuan menjadikan apa yang samar menjadi terlihat jelas. Namun, hal itu masih perlu proses untuk bisa diterima secara luas.
Pemunculan leksem atau ”istilah” baru membutuhkan proses penerimaan sosial (konvensionalisasi). Sebab, unsur-unsur baru itu belum familier dalam sistem bahasa Indonesia. Selain itu, usulan bentuk -nyi juga berisiko terasa tidak alami dalam praktik berbahasa Indonesia, yang ujungnya akan mengganggu keberterimaan.
Di sinilah tantangannya: keberterimaan dan konsistensi penggunaan. Ketika kita tengok tulisan Dahlan Iskan (DI) pada 11 Juli 2023 yang berjudul Windy Evi, Dahlan Iskan mengalami apa yang saya namakan kecelakaan-tidak-konsisten.
Hanya dari artikel itu saja kita sudah bisa mengamati ada kemunculan ketidakkonsistenan penggunaan kata ganti milik usulan DI. Ditemukan sedikitnya tujuh kesalahan penggunaan -nya dalam artikel tersebut.
Kalimat ”Nama lengkapnya: Windy Nugroho” dan ”Windy berubah. Wajahnya bulat”, misalnya. Pak DI mengalami ”kecelakaan” karena tidak sengaja melakukan inkonsistensi dalam penggunaan sufiks -nya yang seharusnya ditulis -nyi.
Meski begitu, perlu kita apresiasi bahwa beliau berusaha dengan sangat keras untuk melakukannya secara konsisten. Saya sudah mengumpulkan 365 artikel tulisan beliau pada 2023.
Dari sana saya proses dengan bantuan perangkat lunak AntConc, dan hasilnya ditemukan penggunaan -nyi sebanyak 442 kali, saya berasumsi bahwa tidak ada kesalahan dalam penggunaan -nyi.
Namun, penggunaan -nya mengalami ketidakkonsistenan, terdapat 11.701 kali penggunaan -nya. Itu perlu diteliti lebih lanjut untuk mengetahui seberapa jauh konsistensinya.
Lain daripada itu semua, Dahlan Iskan terlihat sangat mendukung Kartini dalam gender awareness. Strategi Kartini fokus pada perubahan cara berpikir dan sistem sosial (macro awareness), kemudian Dahlan Iskan melengkapinya dalam micro awareness dengan fokus pada perubahan bentuk bahasa (linguistik).
Pendekatan Kartini menunjukkan bahwa kesadaran gender berangkat dari pengenalan ketimpangan sosial yang terinternalisasi dalam budaya.
Dalam konteks modern, gagasan Dahlan Iskan tentang diferensiasi sufiks -nya dan -nyi dapat dipahami sebagai upaya linguistik untuk merepresentasikan kesadaran tersebut pada tingkat mikro, yakni melalui penandaan eksplisit gender dalam bahasa.
Namun, meski strategi tersebut berpotensi meningkatkan akurasi referensial terhadap perempuan, itu juga menimbulkan persoalan keberterimaan dan kewajaran dalam bahasa yang menjadi PR kita bersama. (*)