UNUSA Kampus NU yang Inklusif

Sabtu 25-04-2026,06:33 WIB
Oleh: Budi Santoso*

RABU, 22 April 2026, di gedung Diandra, Jalan Basuki Rahmat, Surabaya, tampak ramai. Ratusan orang hadir untuk mengikuti acara wisuda XXI. Wisuda kali ini diikuti 227 lulusan yang diwisuda dengan perincian sebagai berikut: 220 orang lulusan yang diwisuda berasal dari fakultas keperawatan dan kebidanan sebanyak 161 lulusan dari prodi S-1 keperawatan, magister terapan keperawatan, D-3 kebidanan, dan S-1 kebidanan. 

Fakultas kesehatan sebanyak 16 lulusan dari prodi S-1 kesehatan masyarakat, S-1 Gizi, dan D-4 analis kesehatan. Fakultas keguruan dan ilmu pendidikan sebanyak 13 lulusan dari prodi S-1 pendidikan guru PAUD dan S-1 pendidikan guru SD. 

Fakultas ekonomi, bisnis dan teknologi digital sebanyak 19 lulusan dari S-1 akuntansi, S-1 manajemen, dan S-1 sistem informasi. Fakultas kedokteran sebanyak 11 lulusan dari S-1 pendidikan dokter. Sedangkan sisanya 7 dari jalur profesi.

BACA JUGA:Ahli Gizi Unusa: MBG Tidak Memenuhi Gizi yang Cukup

BACA JUGA: UNUSA-PENS-Konjen AS Rilis Prakarsa Lab; Teknologi AR-VR Penunjang Pembelajaran

WAJAH INKLUSIF UNUSA

Wisuda yang digelar UNUSA berlangsung meriah, tetapi khidmat. Seluruh wisudawan yang dikukuhkan menjalani rangkaian acara wisuda dengan hati gembira. Demikian pula wajah orang tua dan keluarganya. 

Sebagai universitas milik Nahdlatul Ulama (NU), banyak orang membayangkan semua lulusan yang diwisuda adalah kaum muslim dan muslimah. Namun, pandangan seperti itu ternyata keliru. Di antara para wisudawan di sana ternyata adalah umat Katolik. Seorang biarawati.

Dari apa yang dituturkan, salah satu wisudawan yang notabene seorang biarawati itu menyatakan sangat bersyukur dapat menjadi bagian dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. 

Sebagai seorang yang berasal dari latar belakang agama Katolik, ia memang ditugaskan untuk menempuh jenjang pendidikan lebih tinggi di bidang kesehatan. Ia akhirnya memutuskan memilih kuliah di Program Studi D-IV Analis Kesehatan UNUSA. 

Pada awalnya, tentu ada pertanyaan dalam dirinya tentang bagaimana dia akan beradaptasi di lingkungan kampus yang berbasis nilai-nilai keislaman. Namun, pengalaman yang dia dapatkan justru jauh dari kekhawatiran itu. Dia menemukan bahwa UNUSA adalah kampus yang terbuka, hangat, dan menjunjung tinggi nilai toleransi serta kebersamaan. 

Ia percaya bahwa pendidikan tidak hanya tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk karakter, memperluas cara pandang, dan belajar hidup berdampingan dalam perbedaan. Di kampus UNUSA, dia menemukan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan jembatan untuk saling memahami dan menghargai.

Menurut pengakuannya, alasan dia memilih UNUSA pada saat itu adalah ia melihat kampus tersebut tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga sangat menekankan pendidikan karakter, etika, dan nilai kemanusiaan. 

Ketika diwisuda, dia mengatakan bahwa pilihan itu adalah keputusan yang tepat dalam hidupnya. Selama menempuh pendidikan di UNUSA, banyak hal yang dia pelajari –bukan hanya dari sisi akademik, melainkan juga tentang kehidupan. 

Ia mengaku banyak belajar tentang arti disiplin, kerja keras, tanggung jawab, serta bagaimana hidup berdampingan dalam keberagaman dengan saling menghormati satu sama lain. Itu adalah fondasi yang sangat kuat dalam membangun kehidupan bermasyarakat. Pengalaman itu menjadi salah satu pelajaran paling berharga yang akan ia bawa dalam hidupnya. 

Kategori :