Upaya itu dapat diperkuat melalui insentif pajak yang tepat, kewajiban penggunaan komponen lokal secara konsisten, dan dukungan pembiayaan bagi industri komponen dalam negeri.
Dengan demikian, mobil nasional tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga produk yang memiliki daya saing ekonomi nyata bagi masyarakat.
Mobil nasional menjadi ujian atas keseriusan Indonesia dalam menghidupkan kembali prinsip berdikari di bidang ekonomi. Gagasan yang diusung Prabowo membuka ruang untuk keluar dari pola lama yang menempatkan Indonesia semata sebagai pasar.
Dengan potensi pasar yang besar, sumber daya yang melimpah, dan momentum pergeseran industri otomotif global menuju era elektrifikasi, peluang untuk mewujudkan mobil nasional berada dalam jangkauan. Yang diperlukan adalah konsistensi kebijakan, keberanian mengambil keputusan strategis, dan dukungan publik.
Mobil nasional bukan sekadar pilihan kebijakan, melainkan penentu apakah Indonesia tetap berada dalam orbit konsumsi global atau melangkah sebagai produsen yang berdaulat.
Di titik itulah, Trisakti menemukan manifestasi paling konkret. Yakni, bukan lagi sekadar gagasan historis, melainkan praktik ekonomi yang hidup dalam industri otomotif nasional.
Ia hadir nyata di jalanan negeri sendiri, bukan hanya sebagai simbol kebanggaan, melainkan sebagai penanda bahwa Indonesia tidak lagi sekadar pasar. Juga, produsen yang mampu menentukan arah ekonominya sendiri. (*)
*) Andhika Wijaya, pengamat kebijakan publik dan demokrasi, Manifesto Ideas Institute.