HARIAN DISWAY - Peluang kerja di luar negeri dengan tawaran gaji yang menjanjikan. Hal itu menjadi daya tarik yang diminati banyak tenaga kerja di Indonesia.
Pekerjaan di sektor formal maupun informal banyak tersedia di berbagai negara. Seperti di Asia Timur, Eropa, hingga Timur Tengah. Bekerja di luar negeri dinilai mampu memberikan peningkatan kesejahteraan finansial.
namun, impian untuk meraih kesuksesan finansial sering kali dibarengi oleh berbagai risiko keamanan. Oleh karena itu, perlu persiapan matang.
Calon pekerja migran juga harus memahami regulasi hukum di negara tersebut. Itu sangat diperlukan sebelum mengambil keputusan untuk berangkat.
BACA JUGA:66 Pekerja Migran Indonesia Dideportasi dari Malaysia, Terindikasi Korban TPPO
Wamen P2MI, Christina Aryani, melepas keberangkatan 29 pekerja migran Indonesia sektor kesehatan yang akan bekerja di Jerman, Kamis, 5 Maret 2026.-Dok. Kementerian P2MI-
Langkah paling mendasar yang harus dipenuhi adalah memastikan legalitas agen penyalur tenaga kerja yang digunakan.
Pemerintah telah menyediakan lembaga resmi. Yang mengawasi penempatan tenaga kerja ke luar negeri. Juga melindungi hak-hak pekerja. Terutama mencegah tindak pidana perdagangan orang.
Calon pekerja harus menghindari tawaran jalur keberlakuan non-prosedural. Atau menggunakan visa kunjungan untuk bekerja.
Sebab, hal itu melanggar hukum keimigrasian negara tujuan. Pun, membuat pekerja rentan terhadap eksploitasi.
BACA JUGA:Kejaksaan RI Awasi Aspek Hukum dan Literasi Keuangan Pekerja Migran di Hongkong
Kelengkapan dokumen harus diperhatikan. Seperti paspor, visa kerja, dan kontrak resmi yang diterjemahkan ke dalam bahasa yang dipahami.
Semua dokumen itu harus selalu berada di tangan pekerja. Selain aspek legalitas, harus dipahami tentang budaya dan hukum di negara tujuan. Itu menjadi benteng pertahanan yang sangat penting.
Setiap negara memiliki aturan budaya dan hukum ketenagakerjaan yang sangat spesifik. Mulai dari jam kerja, hak cuti, hingga regulasi mengenai tata cara berpakaian dan interaksi sosial.
Sebelum berangkat, sebaiknya mengikuti pelatihan bahasa. Juga pelatihan keterampilan kerja yang diselenggarakan lembaga resmi pemerintah. Itu akan sangat membantu pekerja dalam beradaptasi.
Wamen KP2MI, Christina Aryani, membahas kerja sama dan optimalisasi penempatan pekerja migran Indonesia dengan Duta Besar Kuwait untuk Indonesia, Khalid Jassim-Dok. KP2MI-
BACA JUGA:DPRD Gresik Kawal Implementasi Perda Pekerja Migran: Tingkatkan Literasi demi Migrasi Aman
BACA JUGA:Gus Yani Pulangkan Anak Pekerja Migran dari Negeri Jiran, Jamin Hak Dasar Anak Terpenuhi
Kemampuan berbahasa asing yang baik juga mempermudah komunikasi dengan pemberi kerja. Pun, meminimalisir terjadinya kesalahpahaman di tempat kerja.
Kesehatan mental dan fisik merupakan modal utama. Dua hal itu harus dijaga selama berada jauh dari tanah air.
Perbedaan iklim dan jauhnya jarak dari keluarga. Itu yang sering kali memicu rasa rindu. Itu dapat memengaruhi kinerja di tempat kerja.
Pekerja disarankan untuk selalu menjalin komunikasi rutin dengan keluarga di Indonesia. Tentunya dengan menggunakan jaringan internet yang aman.
BACA JUGA:Disnakertrans Jatim Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran: Wajib Daftar OSS!
BACA JUGA:Prabowo Peringatkan Bahaya Sindikat Migran Ilegal, Kasus Penembakan 5 WNI di Malaysia Jadi Sorotan
Selain itu, wajib menyimpan nomor kontak darurat perwakilan diplomatik Republik Indonesia. Seperti Kedutaan Besar Republik Indonesia atau Konsulat Jenderal di negara tujuan. Demi mempermudah pencarian bantuan saat menghadapi situasi darurat.
Pengelolaan keuangan juga harus direncanakan dengan sangat disiplin. Bahkan sejak hari pertama menerima gaji.
Hindari gaya hidup konsumtif. Pilih layanan perbankan resmi untuk mengirimkan penghasilan ke Indonesia. Itu merupakan langkah bijak untuk mengamankan masa depan finansial.
Agar Lebih Aman, Kemlu Ingatkan Pekerja Migran Ikuti Prosedur Resmi-Kemlu-
Dengan mematuhi seluruh prosedur hukum, membekali diri dengan keterampilan yang cukup, serta menjaga komunikasi, bekerja di luar negeri dapat menjadi pengalaman berharga. Bahkan membawa perubahan positif bagi kehidupan keluarga. (*)
*) Mahasiswa magang dari Prodi Ilmu Komunikasi, Untag Surabaya.