Kerasukan selalu menarik bagi orang yang tidak pernah kerasukan. Ia asing, ganjil, bahkan menakutkan. Tapi di Desa Latas, kerasukan adalah bagian dari hidup. Mereka menyebutnya sambetan.
BAGI masyarakat Desa Latas—desa yang tanahnya pelan-pelan berpindah tangan, digerus oleh proyek dan kepentingan yang datang dari luar—sambetan menawarkan pelarian. Juga, cara untuk bertahan dari kehilangan dan segala tentang yang tak bisa diucapkan.
Di pesta-pesta sambetan itu, tubuh-tubuh yang letih seperti menemukan bentuk lain dari dirinya. Mereka bergerak bersama, jatuh bersama, larut dalam ekstase yang kolektif. Untuk sesaat, dunia luar yang penuh ancaman seakan lenyap.
Wregas tahu tubuh yang sedang dibicarakannya harus diperlihatkan. Ia menempatkan penonton di dalamnya, atau setidaknya cukup dekat untuk merasakan ritmenya. Gunnar Nimpuno, sinematografer Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti, membangun Desa Latas dengan komposisi yang rapat dan terkendali.
BACA JUGA:Sinopsis Para Perasuk, Film Unik Wregas Bhanuteja Ubah Kesurupan Jadi Kritik Sosial
BACA JUGA: 6 Film Indonesia Tayang Mei 2026, Crocodile Tears dan Children of Heaven Paling Ditunggu
Kamera jarang bergerak jauh—dominan medium shot dan close-up—memaksa penonton untuk terus dekat dengan tubuh, wajah, dan keringat para karakternya. Long shot sesekali hadir, untuk memperlihatkan betapa kecilnya Desa Latas di hadapan dunia yang mengepungnya.
Yennu Ariendra yang mengerjakan scoring film, membuat slompret, kendang, dan gitar tidak sekadar sebagai pengiring. Ketika slompret ditiup, tubuh bergerak. Ketika Guru Asri (Anggun C Sasmi) merapalkan mantra, suaranya menjelma jantung yang memompa seluruh pesta.
ANGGUN C SASMI (kiri) menjadi daya tarik dalam Para Perasuk. Mantranya membangkitkan roh-roh yang kemudian merasuki warga Desa Latas.--X/FilmIndoSource
Bagian yang paling menarik—dan sekaligus paling problematik—dari Para Perasuk adalah ketenangan estetikanya. Wregas tahu betul apa yang ingin ia tampilkan: tubuh-tubuh yang mengalami ekstase kolektif, ritus yang berulang, desa yang pelan-pelan kehilangan akarnya.
Namun, masalah terbesar Para Perasuk bukan soal apa yang diperlihatkan, melainkan soal apa yang tidak cukup dibangun dan dibicarakan dalam rentang 122 menit.
BACA JUGA:Empat Film Indonesia dari Festival Clermont-Ferrand Diputar di IFI Surabaya
BACA JUGA:Deretan Film Indonesia Tayang Januari 2026: Horor, Drama, hingga Komedi yang Wajib Ditonton
Wregas melempar banyak benang sekaligus: krisis quarter-life Bayu (Angga Yunanda), relasinya yang retak dengan sang ayah (Indra Birowo), hubungannya dengan Laksmi (Maudy Ayunda), dan konflik agraria dengan PT Wanaria. Semuanya hadir. Tapi, tidak ada yang benar-benar dibicarakan.
Konflik agraria adalah yang paling terasa disia-siakan. Dalam film yang secara eksplisit membangun sambetan sebagai resistensi atas modernisasi dan pengalihan fungsi lahan, ancaman PT Wanaria seharusnya terasa seperti bayangan yang menindih di setiap adegan.
Tapi ia hadir terlalu rapi. Wregas tahu konflik itu penting, tapi tidak sepenuhnya percaya bahwa penonton perlu merasakannya sampai ke tulang.
Padahal, jika sambetan dibaca sebagai respons terhadap kehilangan—tanah yang berpindah tangan, ruang hidup yang menyempit—maka ia seharusnya menyimpan kekacauan yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dikontrol, bahkan oleh kamera.
BACA JUGA:8 Film Indonesia Tayang Desember 2025, Ada Kisah Tragis David Ozora dan Nia Penjual Gorengan
BACA JUGA:Spesial Hari Penerbangan Nasional: Yuk Nonton 5 Film Indonesia Bertema Penerbangan Ini!
SLOMPRET mengiringi sambetan alias kerasukan massal warga Desa Latas. Kerasukan dalam Para Perasuk menjadi pelarian dari tekanan kehidupan.--Instagram/filmparaperasuk
Seharusnya, Para Perasuk bisa membuat penonton meninggalkan bioskop sambil membawa perasaan yang sama dengan saat melihat konflik di Wadas, Kendeng, atau Urutsewu. Rasa marah, sedih, dan kehilangan.
Barangkali ini memang pilihan. Tapi pilihan itu rasa-rasanya terlalu berhati-hati, seolah film yang mulai tayang pada 23 April 2026 tersebut tidak sepenuhnya percaya pada kekacauan yang sejak awal ia bangun sendiri.
Wregas membangun filmnya dengan kesadaran bahwa ada dua sudut pandang sekaligus. Yaitu, penonton Indonesia yang melihat dirinya sendiri dan penonton global di festival internasional yang melihat Indonesia.
Edward Said mungkin tidak pernah membayangkan bahwa logika tentang bagaimana Barat membangun citra Timur sebagai sesuatu yang eksotis sekaligus mistis bisa bekerja dari dalam; sebuah bangsa bisa menjadi orientalis atas dirinya sendiri.
BACA JUGA:4 Film Indonesia yang Tayang di Netflix pada April 2025, Ada Horor dan Drama Romantis
Mungkin ini juga yang kemudian oleh Michael Hechter sebut sebagai gejala internal colonialism. Ketika "pinggiran" dipandang dengan mata yang sama dinginnya seperti penjajah memandang tanah jajahannya.
Walter Mignolo membedakan karya yang bercerita tentang yang terpinggirkan dan karya yang secara sungguh-sungguh menjadi bagian dari perlawanan.
BAYU WIRA HANDYAN, mahasiswa pascasarjana Media dan Komunikasi, Universitas Airlangga, Surabaya.--Dokumentasi Pribadi
Para Perasuk melakukan sebagian dari pekerjaan itu; menolak eksotisme, menolak meletakkan horor dan mistis di etalase jualan.
Tapi, bahasa visualnya tetap bekerja dalam logika sinema festival yang diakui Sundance, yang dirayakan kritikus Barat.