HARIAN DISWAY - Bunga Peony dikenal sebagai “Raja Bunga”. Keberadaannya memiliki makna mendalam dalam budaya Tiongkok.
Selama lebih dari 4.000 tahun, bunga itu telah menjadi simbol kemakmuran, kehormatan, dan keindahan. Melekat kuat dalam kehidupan masyarakat.
Sejak masa kuno, peony sangat dihargai karena keindahannya. Juga manfaatnya dalam pengobatan tradisional Negeri Tirai Bambu.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa bunga itu mulai dibudidayakan sejak masa Dinasti Qin (221–207 SM). Sebelum akhirnya berkembang pesat di era Dinasti Tang (618–907).
Kebun bunga peony di Tiongkok. Bunga itu memiliki makna mendalam bagi masyarakat setempat. --China Daily
BACA JUGA:Jingzhe, Musim Semi dan Kebangkitan Alam dalam Tradisi Tiongkok
BACA JUGA:Fuxi, Tokoh Mitologi Tiongkok Peletak Fondasi Peradaban Kuno di Tianshui
Pada masa Dinasti Tang, peony mencapai puncak popularitasnya. Bunga itu menjadi simbol kekayaan dan status sosial.
Bahkan sering disebut sebagai bunga nasional pada era tersebut. Banyak karya sastra dan seni yang menjadikan peony sebagai metafora. Tentang keindahan dan kejayaan negara.
Keterkaitan peony dengan kekaisaran semakin kuat melalui kisah Wu Zetian, satu-satunya kaisar perempuan dalam sejarah Tiongkok.
Dalam legenda, dia memerintahkan semua bunga mekar di musim dingin. Namun, peony menolak.
BACA JUGA:Festival Musim Semi Tiongkok, Nilai Budaya dan Simbol Persatuan Sosial
BACA JUGA:Golf Diperkirakan Berasal dari Tiongkok, Jejak Permainan Kuno yang Mendahului Skotlandia
Bunga tersebut kemudian diasingkan ke Luoyang. Tetapi justru tumbuh subur. Hingga kemudian menjadi simbol keteguhan serta keindahan.
Dalam seni dan sastra, peony kerap muncul sebagai simbol kemakmuran dan kehormatan. Penyair besar seperti Li Bai dan Bai Juyi banyak mengabadikan keindahan bunga itu dalam karya mereka.