Dua Surabaya

Dua Surabaya

ILUSTRASI Dua Surabaya.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -

SUDAH terlalu lama saya tak memperhatikan perkembangan Kota Surabaya. Ini bikin terkaget-kaget ketika kapan hari diajak bertemu seseorang di kawasan East Cost, Pakuwon City.

Ya. Ternyata kota baru di wilayah Timur Surabaya itu telah berkembang pesat. Saya selalu membayangkan pertumbuhannya masih di sekitar Pakuwon City Mall. Yang berdekatan dengan kampus ITS itu.

Ternyata Pakuwon City sudah berkembang sampai jauh nun ke sana. Ke arah timur. Ada Shopping Arcade, Toko Buah Hokky, dan kampus Universitas Katolik Widya Mandala. Sudah hidup sekali.

Ceritanya begini.

Saya janjian ketemu dengan Irawan Hadikusumo. Pengusaha yang juga kolektor lukisan. Pemilik Wisma Gallery. ”Ada kopi enak di sana,” katanya meyakinkan. Ia pun langsung mengirim alamat Google Map.

BACA JUGA:Surabaya Langganan Banjir: Mengapa Puluhan Pompa dan Box Culvert Tak Pernah Cukup?

BACA JUGA:Membicarakan Surabaya Raya: Kota yang Tumbuh Melampaui Batas Administratif

Shopping Arcade itu menghadap ke selatan. Panjang sekali. Dengan desain modern. Terasnya menggunakan kanopi putih. Seperti pusat belanja di luar negeri. Desainnya keren sekali. Seperti tak terasa ini di Surabaya.

Apalagi, ini sudah masuk musim dingin di selatan garis khatulistiwa. Udara dingin dari selatan menambah suasana enak nongkrong di kawasan yang bertumbuh tempat makan dan kafe modern itu. Saya tak tahu apakah masih banyak nyamuk di malam hari.

Dulu saya pernah melontarkan guyonan. Bahwa wali kota sebenarnya di beberapa kota baru itu bukanlah wali kota Surabaya yang berkantor di balai kota. Mereka para pimpinan pengembang besar. Mulai Ciputra, Darmo Permai, dan seterusnya.

Rasanya wali kota Surabaya Timur sekarang –Pakuwon City– adalah Alex Teja. Atau, Melinda Teja. Keduanya para pemilik Pakuwon Group. Dari tangan dan visi merekalah, Surabaya Timur berkembang begitu modern seperti sekarang.

BACA JUGA:Utang untuk Infrastruktur Surabaya

BACA JUGA:Standar Baru Seni Surabaya

Saya juga pernah melontar guyonan: kalaupun Pemkot Surabaya tak bekerja apa pun, Surabaya akan tumbuh pesat. Sebab, kota itu telah menjadi tempat investasi yang menarik. Kapasitas fiskalnya terlalu kecil jika dibandingkan dengan pertumbuhan investasi swastanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: