Dua Surabaya
ILUSTRASI Dua Surabaya.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Nah, kalau Surabaya sudah bisa tumbuh tanpa pemerintahnya bekerja, lantas apa peran wali kota? Apa yang bisa dilakukan pemerintah kota di tengah pertumbuhan kota-kota baru yang digerakkan para pengembang itu? Apakah pertumbuhan tersebut akan mengubah karakter ibu kota Jatim itu?
Pertumbuhan kota baru di Surabaya Timur dan Surabaya Barat merupakan fenomena yang tidak bisa dipahami hanya sebagai ekspansi fisik kota. Ia adalah proses transformasi sosial, ekonomi, dan budaya yang akan menentukan wajah Surabaya beberapa dekade ke depan.
Surabaya Timur berkembang sebagai kawasan hunian menengah-atas, pendidikan, perdagangan, jasa, dan rekreasi. Kehadiran kawasan seperti MERR, Kertajaya, Pakuwon City, dan koridor menuju Kenjeran menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru.
BACA JUGA:Surabaya Global Mengakar
BACA JUGA:Reposisi Surabaya
Sedangkan Surabaya Barat berkembang menjadi episentrum ekonomi baru. Muncul di sana kawasan bisnis, pusat perbelanjaan, pergudangan modern, dan perumahan skala besar. Semua terhubung dengan tol Surabaya–Mojokerto dan kawasan industri Gresik.
Kedua episentrum pertumbuhan itu membuat Surabaya bergerak dari model single core city menuju multi-core city. Kota dengan banyak pusat pertumbuhan. Itu tanda positif karena dapat mengurangi tekanan terhadap pusat kota lama seperti Tunjungan, Embong Malang, dan sekitar Pelabuhan Tanjung Perak.
Namun, di sisi lain, pertumbuhan tersebut berisiko melahirkan ”Dua Surabaya”. Surabaya baru yang modern, eksklusif, dan terkoneksi global. Surabaya lama yang tertinggal, padat, dan menghadapi keterbatasan akses ekonomi. Jika tak terkelola, ketimpangan spasial itu bisa berubah menjadi kesenjangan sosial.
Lantas, bagaimana?
Seperti sampean tahu, Surabaya bukan sekadar kota properti dan infrastruktur. Identitas Surabaya dibangun oleh tiga karakter utama. Yakni, kota perjuangan, kota kampung, dan kota maritim. Tiga karakter itulah yang membantuk masyarakat yang terbuka, egaliter dan inklusif selama ini.
BACA JUGA:Surabaya Nir-hub
BACA JUGA:Merdeka dari Surabaya
Sebagai kota perjuangan, Surabaya memiliki memori kolektif sebagai Kota Pahlawan. Karena itu, pembangunan kawasan baru tidak boleh hanya menampilkan arsitektur generik yang bisa ditemukan di Jakarta, Kuala Lumpur, atau Bangkok. Harus tetap ada narasi sejarah yang tetap hidup.
Kedua, keunikan Surabaya terletak pada kampung-kampungnya. Kampung Ampel, Peneleh, Laweyan Surabaya, Tambak Bayan, hingga kampung-kampung pesisir adalah bagian dari identitas kota. Masing-masing menjadi kluster multietnis yang menyatu.
Ketiga, sebagai hub Indonesia Timur dan Barat, Surabaya punya identitas historis sebagai kota pelabuhan dan perdagangan laut. Sayangnya, itu tak tecermin dalam pertumbuhan kota. Selama ini orientasi pembangunan Surabaya cenderung menghadap ke daratan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: