Menunggu Godot di Tengah Kobaran Api

Jumat 08-05-2026,19:29 WIB
Oleh: Eko Ernada*

Bahkan, ketegangan di Selat Hormuz pada dekade 1980-an selama Perang Iran-Irak menegaskan satu pola yang konsisten: setiap gangguan di titik sempit itu selalu berdampak luas, melampaui batas kawasan. 

Perbandingan historis tersebut menunjukkan bahwa yang kita hadapi hari ini bukan anomali, melainkan pengulangan pola lama dalam bentuk yang lebih kompleks. Bedanya, interdependensi global saat ini jauh lebih dalam sehingga dampaknya juga lebih cepat dan luas. 

Artinya, risiko yang dihadapi dunia hari ini bukan hanya pengulangan krisis, melainkan eskalasi dari krisis itu sendiri.

Bagi negara-negara seperti Indonesia, implikasinya sangat nyata. Ketika harga minyak global naik, subsidi energi tertekan, APBN ikut terbebani, dan ruang fiskal menyempit. Ini bukan lagi isu jauh di Timur Tengah, ini adalah persoalan langsung yang memengaruhi stabilitas ekonomi nasional. 

Dalam konteks ini, harapan terhadap perdamaian bukan hanya idealisme moral, tetapi juga kebutuhan pragmatis.

Namun, kembali ke absurditas Beckett, dunia tampaknya lebih nyaman menunggu daripada mengubah kondisi yang membuat penantian itu tak berujung. Diplomasi tetap berjalan, tetapi sering kali lebih sebagai simbol daripada solusi. 

Pernyataan-pernyataan damai terus dikeluarkan, tetapi langkah konkret yang dapat mengubah insentif konflik tetap minim. Perdamaian dibicarakan, tetapi tidak benar-benar diperjuangkan dengan konsekuensi nyata.

Maka, pertanyaan mendasarnya menjadi makin tajam: apakah dunia benar-benar menginginkan perdamaian atau hanya membutuhkan stabilitas semu yang cukup untuk menjaga sistem tetap berjalan? 

Selama Selat Hormuz masih menjadi titik tekan utama dalam ekonomi energi global, selama konflik masih bisa dimonetisasi dalam bentuk leverage politik dan ekonomi, perdamaian akan selalu berada dalam posisi sekunder.

Seperti menunggu Godot, dunia terus berharap pada sesuatu yang mungkin tidak akan datang, bukan karena mustahil, melainkan karena tidak pernah benar-benar diupayakan dengan kesungguhan yang cukup. 

Sementara itu, kobaran api terus menyala, harga minyak terus berfluktuasi, dan masyarakat global menanggung biaya dari sebuah konflik yang tak kunjung diselesaikan.

Perdamaian abadi mungkin tetap menjadi cita-cita. Namun, tanpa keberanian untuk mengubah struktur kepentingan yang menopang konflik, ia akan tetap menjadi ide yang indah –dan jauh. (*)

 

Kategori :