Museum tersebut bukan proyek instan. Ide awalnya sudah digagas dua dekade lalu oleh para peneliti yang ingin menghadirkan biografi Nabi Muhammad SAW dalam bentuk yang lebih modern dan mudah dipahami generasi masa kini.
Referensi utamanya adalah Al-Qur’an dan hadis, disertai kajian mendalam para ulama dan sejarawan. Karena itu, setiap visualisasi yang ditampilkan telah melalui proses verifikasi yang ketat.
“Tujuan museum ini adalah mengenalkan kembali kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama bagi umat manusia,” ujar Ustadz Adz Dzahabie.
Museum serupa kini juga dikembangkan di Makkah, Maroko, dan Senegal. Demikian menunjukkan upaya global untuk menyebarkan edukasi sejarah Islam dengan pendekatan teknologi.
Di salah satu ruangan, pengunjung diajak menyaksikan rekonstruksi perjalanan hijrah, lengkap dengan rute, kondisi gurun, dan suasana Gua Tsur. Di ruangan lain, ada visualisasi perang-perang besar seperti Badar dan Uhud yang disajikan dengan cara edukatif.
Namun, bagian yang paling banyak membuat pengunjung terdiam adalah ruang kamar Rasulullah. Dengan teknologi VR, pengunjung seolah benar-benar masuk ke ruangan itu serta melihat atap rendahnya, tikar sederhana, kendi air, dan tempat tidur yang terbuat dari anyaman.
Kesederhanaan itu terasa menusuk. Terutama di tengah dunia yang semakin gemerlap. Seolah mengingatkan bahwa manusia paling mulia justru hidup dengan sangat sederhana. (*)