Sekolah dan perguruan tinggi harus menjadi pusat lahirnya generasi yang menguasai teknologi sekaligus berintegritas. Artificial Intelligence, coding, dan kewirausahaan digital penting, tetapi lebih penting lagi adalah menanamkan etika, tanggung jawab sosial, dan semangat kebangsaan.
Ki Hajar Dewantara telah mengajarkan bahwa pendidikan adalah upaya memerdekakan manusia. Dalam konteks hari ini, pendidikan harus memerdekakan generasi dari kebodohan digital, kecanduan teknologi, dan kolonialisme algoritma.
Kedaulatan Digital sebagai Agenda Bangsa
Refleksi Harkitnas 2026 juga perlu diarahkan pada pentingnya kedaulatan digital nasional. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar besar bagi platform global. Negara harus hadir melalui kebijakan yang melindungi data rakyat, mendukung inovasi lokal, serta memperkuat ekosistem teknologi nasional.
Kebangkitan nasional modern berarti keberanian membangun kemandirian di bidang teknologi, sebagaimana para pendiri bangsa dahulu membangun kesadaran politik. Jika data adalah “minyak baru”, maka melindungi dan mengelolanya untuk kepentingan nasional adalah bentuk patriotisme kontemporer.
BACA JUGA:Panduan Waras Bertahan Hidup di Era Dolar Gila
BACA JUGA:Triderita Dosen: Ngajar, Nombok, Diperas
Bangkit atau Tertinggal
Hari Kebangkitan Nasional bukan seremoni tahunan tanpa makna. Ia adalah panggilan sejarah agar bangsa ini terus bangkit menyesuaikan tantangan zaman. Tahun 2026, kebangkitan nasional harus dimaknai sebagai kebangkitan literasi, inovasi, karakter, dan kedaulatan digital.
Bangsa yang besar bukan bangsa yang sekadar terhubung dengan dunia, tetapi bangsa yang mampu memimpin perubahan tanpa kehilangan jati dirinya. Di era digital, perjuangan bukan lagi mengangkat senjata, tetapi menguasai ilmu, menjaga persatuan, dan membangun peradaban.
Refleksi Harkitnas 2026 mengingatkan kita: Jika dahulu kita bangkit melawan penjajahan bangsa asing, maka hari ini kita harus bangkit melawan penjajahan pikiran, informasi, dan ketergantungan digital.
Bangkitlah Indonesiaku, dari pengguna menjadi pencipta, dari pasar menjadi pelopor, dari bangsa besar menjadi bangsa maju.
*)Dosen Universitas 45 Surabaya, Ketua Yayasan Perjuangan 45.