Era modern saat ini, decisive battle tidak lagi hanya berupa pertemuan dua baris kapal perang, melainkan sinkronisasi serangan presisi jarak jauh.
Sebagai contoh Ukraina, meski tidak memiliki armada kapal perang besar, berhasil menciptakan ”pertempuran penentu” secara asimetris dengan menenggelamkan kapal penjelajah Moskva menggunakan rudal Neptunus dan menyerang markas Armada Laut Hitam Rusia di Sevastopol menggunakan drone maritim dan rudal Storm Shadow.
Keberhasilan itu memaksa armada Rusia mundur, secara efektif memenangkan kendali di wilayah perairan tersebut tanpa duel kapal tradisional. Fleet-in-being merupakan strategi di mana kekuatan laut yang lebih kecil menghindari pertempuran terbuka, tetapi tetap berada di pangkalan atau wilayah terdekat sebagai ancaman yang kredibel.
Keberadaannya memaksa lawan yang lebih kuat untuk terus waspada dan mengikat sumber daya mereka. Saat ini, dalam konteks modern, pengelabuan menggunakan aset terdistribusi (drone, ranjau, rudal pesisir) untuk menciptakan zona penolakan akses (A2/AD).
Sebagai contoh apa yang dilakukan Iran di Selat Hormuz, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tidak mencoba menantang Armada Ke-5 AS secara simetris.
Namun, dengan menempatkan ratusan kapal cepat, baterai rudal pesisir, dan drone di sepanjang garis pantai, mereka menjalankan fungsi fleet-in-being. Kehadiran aset-aset itu memaksa gugus tugas kapal induk AS untuk beroperasi dengan kewaspadaan ekstrem dan radius yang lebih jauh karena ancaman serangan mendadak selalu mengintai.
Blockade merupakan tindakan memutus akses logistik, perdagangan, atau pergerakan militer lawan dari dan menuju laut. Di era modern, blokade sering kali bersifat hibrida (fisik dan digital).
Blokade bukan lagi sekadar barisan kapal yang berpatroli, melainkan penggunaan ranjau pintar, serangan peswat nirawak ke kapal komersial, dan ancaman rudal untuk menutup jalur penting navigasi global (choke points).
Seperti yang dilakukan blokade Houthi di Laut Merah terhadap kapal-kapal terkait Israel dan AS maupun aliansinya. Kelompok Houthi dengan didukung teknologi Iran menerapkan blokade modern dengan menggunakan rudal balistik antikapal dan drone untuk menyerang kapal komersial di Bab Al-Mandab.
Hasilnya, perusahaan pelayaran global terpaksa memutar rute melalui Tanjung Harapan, Afrika. Itu adalah bentuk blokade efektif yang melumpuhkan ekonomi tanpa perlu memiliki armada angkatan laut konvensional yang besar.
Kita tidak lagi hanya berbicara tentang benturan kapal di permukaan, tetapi tentang bagaimana kekuatan laut dapat melumpuhkan lawan melalui kontrol informasi dan penguasaan titik sempit (choke points).
Contoh paling relevan dan provokatif saat ini adalah eskalasi ketegangan antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Teluk Persia dan Laut Merah.
Iran menggunakan strategi fleet-in-being secara brilian meski secara konvensional kalah segalanya dari AS, keberadaan armada speed-boat berpemandu rudal dan drone bunuh diri mereka menciptakan ancaman konstan yang memaksa lawan berpikir dua kali sebelum bertindak.
Sementara itu, ancaman blokade di Selat Hormuz menjadi senjata ekonomi yang mampu mengguncang pasar energi global, membuktikan bahwa kontrol atas akses maritim adalah bentuk kekuatan yang sangat menentukan (decisive).
Dalam teater peperangan ini, kita menyaksikan pergeseran dari dominasi fisik menuju keunggulan biaya dan teknologi melalui war of attrition (perang atrisi). Iran telah mengubah aturan main melalui pengembangan drone murah tetapi mematikan, seperti seri Shahed-136, yang menciptakan kontradiksi teknologi bagi sistem pertahanan canggih seperti Aegis milik AS atau Iron Dome Israel.
Dengan taktik swarming (serangan bầy đàn) dan penggunaan kendaraan bawah laut tanpa awak (UUV), mereka mampu membuat sistem radar lawan kewalahan. Serangan-serangan presisi terhadap aset maritim itu menunjukkan bahwa strategi sea power modern telah bergeser menjadi bentuk perang hibrida yang mematikan, di mana batas antara sabotase dan perang terbuka menjadi makin kabur.