Di tengah arus informasi yang bergerak cepat, buku menawarkan ruang jeda untuk merenung, menyusun pemahaman, serta membangun perspektif yang tidak mudah goyah oleh hiruk-pikuk sesaat.
Masa depan yang kuat tidak dibangun hanya dari pengalaman yang dijalani, tetapi juga dari pengetahuan yang terus dipelajari. Setiap halaman buku yang dibaca menjadi investasi pemikiran yang nanti dapat menuntun langkah di dunia nyata.
Dialektika antara ilmu buku dan ilmu lapangan tidaklah permasalahan memilih salah satu namun bagaimana keduanya dapat berjalan beriringan untuk membentuk individu masyarakat yang utuh.
Hari Buku Nasional menjadi pengingat bahwa masa depan dapat dirawat sejak hari ini, dimulai dari keberanian membuka halaman demi halaman, membaca pengalaman tokoh yang tertulis, lalu menerjemahkan menjadi tindakan nyata bagi kehidupan yang lebih baik. (*)
*) Sendy Krisna Puspitasari, aktivis komunitas perempuan dan anak, mahasiswa S-2 kajian sastra dan budaya, FIB, Universitas Airlangga.