Dialektika Hari Buku Nasional: Antara Ilmu Buku dan Ilmu Lapangan
ILUSTRASI Dialektika Hari Buku Nasional: Antara Ilmu Buku dan Ilmu Lapangan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
PERNYATAAN yang disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia beberapa waktu lalu di siniar Total Politik, ”Jangan bermimpi mengelola negara pakai ilmu buku”. Pernyataan spontan pada menit ke-16.30 membuka ruang dialektika yang menarik antara pengetahuan konseptual dan pengalaman lapangan.
Pernyataan Bahlil dengan kelenturan retorika khasnya ingin menegaskan bahwa mengelola negara tidak cukup hanya dengan hafalan teori, rumusan kebijakan, atau analisis yang rapi. Ada realitas yang sering kali jauh lebih rumit daripada apa yang tertulis di halaman-halaman buku.
Pengalaman lapangan tidak selalu berjalan liniar. Ada kepentingan yang tarik-menarik, dinamika sosial yang terus berubah, dan kebutuhan masyarakat yang sering menuntut jawaban tanpa bisa menunggu terlalu lama.
Dalam perspektif itu, pengalaman menjadi guru yang paling nyata. Para tokoh yang pernah turun langsung ke masyarakat tentu lebih mengetahui denyut permasalahan sehari-hari.
BACA JUGA:Refleksi Hari Buku Nasional, 17 Mei: Literasi Anak dan Tantangan Indonesia Emas 2045
BACA JUGA:Meriahkan Hari Buku Nasional, Mahasiswa Ubaya Lukis Karakter di Atas Sampul Buku
Mendengar langsung suara masyarakat, melihat tantangan yang konkret, hingga memahami situasi yang tidak bisa dijelaskan oleh teori saja. Maka, semuanya membentuk kepekaan yang tidak selalu ditemukan dalam buku.
Krisis Kepercayaan pada Pengetahuan
Pernyataan Bahlil menjadi makin menarik ketika negara ini memperingati Hari Buku Nasional. Sebuah peringatan yang seharusnya menjadi pengingat bahwa peradaban dibangun tidak hanya dengan tindakan, tetapi juga oleh gagasan.
Peringatan itu menjadi ruang refleksi untuk melihat kembali seberapa jauh buku masih ditempatkan sebagai sumber utama dalam memahami dunia. Di saat pengetahuan dapat diakses hanya dalam genggaman, kemampuan dalam memaknai informasi terasa makin menjauh.
Masyarakat saat ini terbiasa menyerap banyak hal dalam waktu singkat, tetapi makin jarang memberikan ruang untuk memahami sesuatu secara utuh. Bacaan panjang mulai ditinggalkan, sementara potongan-potongan informasi yang datang silih berganti tanpa sempat dicerna.
BACA JUGA:Tanggal 17 Mei Memperingati Hari Apa? Ada Hari Buku Nasional
Dalam situasi seperti itu, buku perlahan tidak hanya kehilangan tempat untuk dibaca, tetapi juga mulai kehilangan posisi dalam cara masyarakat berpikir. Pernyataan bahwa negara tidak bisa dikelola dengan ilmu buku juga bisa saja disalahpahami sebagai legitimasi untuk menjauh dari tradisi membaca. Padahal, buku seharusnya kian penting di tengah dunia yang serbainstan.
Sebab, membaca buku tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga melatih kesabaran berpikir, ketelitian memahami, dan kerendahan hati untuk belajar. Jika negara ini mulai kehilangan kepercayaan pada buku, yang terancam tidak hanya budaya literasi, tetapi juga kualitas cara masyarakat memandang permasalahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: