Dialektika Hari Buku Nasional: Antara Ilmu Buku dan Ilmu Lapangan
ILUSTRASI Dialektika Hari Buku Nasional: Antara Ilmu Buku dan Ilmu Lapangan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
Buku Gudang Gagasan, Bukan Hanya Pajangan
Pegiat literasi, Najwa Shihab, pernah mengatakan bahwa ”buku adalah jendela ilmu yang harus dibaca, tidak hanya hiasan rak”. Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi pengingat penting bahwa buku tidak hanya benda yang memenuhi sudut ruangan, tetapi juga ruang gagasan bertumbuh dan diwariskan.
Di dalam buku tersimpan pengalaman tokoh lintas generasi, pemikiran yang melampaui zamannya, serta pelajaran-pelajaran yang terus relevan untuk dibaca ulang. Setiap halaman menghadirkan ruang di mana masyarakat berdialog dengan masa lalu, masa saat ini, dan membayangkan masa depan. Di situlah pengetahuan tidak hanya diwariskan, tetapi juga terus diuji dan diperbarui oleh setiap zaman.
Karena itu, sebelum sebuah kebijakan dibuat dan keputusan besar diambil, selalu ada proses berpikir yang seharusnya mendahuluinya. Setiap pilihan yang menyangkut kepentingan publik membutuhkan pertimbangan yang matang, tidak hanya respons sesaat.
Dalam proses itulah, buku sebagai salah satu bahan berpikir dalam memberikan dasar, memperluas perspektif, dan menantang cara masyarakat memahami permasalahan. Dari buku, masyarakat belajar memahami sejarah agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
Dari buku juga, teori-teori diperkenalkan untuk membantu membaca berbagai permasalahan secara lebih sistematis. Bahkan, lebih dari itu, buku mengajarkan bahwa masalah-masalah publik tidak pernah sesederhana apa yang terlihat di permukaan.
Ada akar permasalahan yang perlu ditelusuri, ada konteks yang perlu dipahami, dan ada berbagai perspektif yang perlu dipertimbangkan. Semua membutuhkan kedalaman cara pandang.
Buku tidak seharusnya berhenti menjadi simbol intelektualitas yang tersusun rapi di rak-rak rumah atau perpustakaan. Buku perlu kembali dihidupkan sebagai teman berpikir, sumber refleksi, dan pengingat bahwa setiap gagasan besar selalu lahir dari keberanian untuk membuka halaman demi halaman.
Ketika buku hanya dijadikan pajangan, yang perlahan hilang bukan hanya kebiasaan membaca, melainkan juga kemampuan untuk melahirkan pemikiran yang matang bagi masa depan negara. Sebab, setiap halaman yang dibuka sesungguhnya menyimpan lahirnya cara pandang baru bagi masa depan yang lebih bijak.
Merawat Masa Depan lewat Halaman-Halaman Buku
Peringatan Hari Buku Nasional menjadi momentum untuk memulihkan kembali hubungan masyarakat dengan pengetahuan. Peringatan itu juga mengingatkan bahwa buku tidak pernah dimaksudkan untuk menjauhkan masyarakat dari realitas, tetapi untuk membantunya memahami realitas dengan lebih mendalam.
Namun, pemahaman terhadap realitas tidak hanya dibentuk melalui bacaan, tetapi juga melalui pengalaman yang dijalani secara langsung.
Benar bahwa pengalaman lapangan menghadirkan pelajaran yang tidak selalu ditemukan dalam halaman-halaman buku. Namun, pengalaman tanpa dasar pengetahuan juga berisiko menjadikan masyarakat melangkah tanpa arah yang jelas.
Apa yang dialami di lapangan sering kali menjadi lebih bermakna ketika dipahami melalui lensa pengetahuan yang telah dibangun sebelumnya. Merawat masa depan lewat halaman-halaman buku berarti menjaga keseimbangan antara memahami teori dan menghidupi praktik.
Buku tidak seharusnya diposisikan sebagai lawan dari pengalaman, sebagaimana pengalaman juga tidak seharusnya dianggap lebih unggul daripada pengetahuan tertulis. Keduanya bahkan saling melengkapi, yaitu buku membantu masyarakat berpikir sebelum bertindak, sementara pengalaman lapangan mengajarkan masyarakat untuk menguji setiap pemikiran dengan kenyataan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: