"Orang tua bilang untuk selalu andalkan Tuhan, jangan pernah patah semangat. Biarpun mereka (badannya) besar-besar dan saya kecil, kalau andalkan Tuhan, saya pasti bisa," cerita Ian.
Ian bukan hanya datang untuk bersaing. Sebagai satu-satunya perwakilan dari Merauke di DBL Camp musim ini, ia membawa misi yang lebih besar dari sekadar menembus babak selanjutnya.
BACA JUGA:Finalis Coach DBL East Java-North 2026, Rainer Anggakara Kini Berburu Ilmu di DBL Camp
BACA JUGA:Nyaris Mundur dari DBL Camp 2026, Fachri Fairuz Lawan Rasa Sakit demi Mimpi
Ia ingin belajar. Tentang pola permainan modern, termasuk horn play yang sempat ia diskusikan dengan para alumni, untuk kemudian dibawa pulang dan disebarkan di kampung halamannya.
"Saya ingin cari pengalaman dan ilmu yang lebih di sini. Supaya nanti pas pulang ke Merauke, saya bisa berbagi dan membantu basket di sana semakin maju," ungkap siswa kelas 12 itu.
Target yang diusung Ian menembus Top 24. Modal yang ia bawa juga jelas, doa orang tua, iman yang ia jaga, dan semangat yang tidak padam meski ankle-nya masih nyeri.
Dari ujung timur Indonesia, Ian membuktikan bahwa jarak bukan penghalang. Selama ada kemauan untuk terbang sejauh enam jam demi sebuah mimpi. (*)