Menurutnya, pendekatan taktikal berbasis positional play mulai dapat diterjemahkan pemain dengan baik di lapangan.
“Kami ingin tim mampu mengontrol ruang, bukan hanya bola. Jadi pemain tidak bergerak sembarangan, tetapi menjaga occupation space dan menciptakan superiority di area tertentu,” ujar Anies.
Banteng Jatim menggunakan formasi dasar 4-2-3-1 yang berubah dinamis menjadi 4-3-3 saat build-up progresif dan 3-5-2 ketika memasuki fase menyerang.
Skema tersebut membuat alur serangan mereka terlihat fleksibel dan cair sepanjang pertandingan.
BACA JUGA:Fraksi PDIP: BUMD Jatim Hanya Unggulkan Bank Jatim
BACA JUGA:PDIP Usul Parliamentary Threshold DPRD 4–5 Persen, Dinilai Permudah Keputusan Daerah
Selain penguasaan bola, Banteng Jatim FC U-17 juga mulai menerapkan prinsip gegenpressing saat kehilangan bola.
Begitu kehilangan penguasaan, para pemain langsung melakukan counter-press guna memutus progresi serangan lawan.
Menurut Anies, organisasi pressing kini mulai terbentuk berdasarkan trigger tertentu seperti back pass, first touch buruk, atau posisi tubuh lawan yang tertutup.
“Kami ingin membuat pressing Banteng Jatim lebih terorganisasi dan bukan sekadar mengejar bola,” katanya.
Ia juga menyebut para pemain mulai terbiasa melakukan scanning sebelum menerima bola sehingga progresi permainan berjalan lebih cepat dibanding pertandingan sebelumnya.
Meski tampil impresif, Anies mengakui masih ada beberapa aspek yang perlu dibenahi, terutama kondisi fisik dan decision making pemain di lapangan.
“Decision making sangat penting di era sepak bola modern. Kami masih melihat ada kekurangan di aspek itu,” ujarnya.
Sementara itu, Asisten Manajer Eri Irawan menilai chemistry antarpemain terus berkembang positif.
Menurutnya, pemain kini mulai memahami kapan harus bermain direct, kapan mengontrol tempo permainan, hingga kapan menciptakan overload di area penting pertandingan.
Soekarno Cup 2026 dijadwalkan berlangsung pada Agustus mendatang di Surabaya, Bangkalan, dan Gresik.