HARIAN DISWAY - Masjid Cut Nyak Dien menjadi lokasi penyelenggaraan Hari Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia pada Minggu, 24 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 12.00 WIB itu dihadiri sekitar 1.000 peserta secara luring maupun daring dari berbagai daerah di Indonesia serta jaringan internasional.
Acara tersebut merupakan puncak dari rangkaian BKUPI (Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia) yang digelar sepanjang Mei 2026. Selama satu bulan, tercatat terdapat 24 rangkaian kegiatan yang melibatkan jaringan ulama perempuan, pesantren, perguruan tinggi, komunitas, hingga media partner.
Salah satu agenda utama dalam rangkaian itu ialah pembacaan 31 manaqib tokoh ulama perempuan Indonesia yang dilaksanakan selama 20 hari berturut-turut melalui kanal daring.
Selain itu, jaringan ulama perempuan Indonesia juga menggelar gerakan khataman Al-Qur’an selama lima hari menjelang acara puncak dan menghasilkan 1.047 khataman dari ratusan lembaga, komunitas, pesantren, serta perguruan tinggi.
Kegiatan puncak diisi dengan khataman Al-Qur’an, penampilan Tari Ratoh Jaroe, pembacaan Ikrar KUPI II, peluncuran Atlas Ulama Perempuan Indonesia, peluncuran Buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia, pidato kebangkitan ulama perempuan, pembacaan puisi, deklarasi Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia, hingga pernyataan sikap dari kolaborasi lembaga penyangga KUPI.
BACA JUGA:Pertamina Dorong Perempuan Berkontribusi di Industri Energi dan STEM Nasional
BACA JUGA:Jawab Persoalan Fikih Perempuan, Ulama Perempuan Masuk Tim Amirulhajj
Selain peserta yang hadir langsung di lokasi, kegiatan juga diikuti melalui nonton bersama di berbagai pondok pesantren, ma’had aly, dan perguruan tinggi di sejumlah daerah.
Ketua Panitia Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia, Nyai Pera Sopariyanti, menyampaikan bahwa gerakan ulama perempuan merupakan gerakan yang dibangun secara kolektif oleh berbagai simpul masyarakat sipil dan jaringan keulamaan perempuan.
“Gerakan Ulama Perempuan ini adalah gerakan kultural, gerakan spiritual, gerakan sosial, dan gerakan intelektual yang gerakan ini dirawat oleh seluruh simpul oleh lima lembaga penyangga," kata Nyai Pera Sopariyanti dalam sambutannya.
Majelis Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) dalam BKUPI di Masjid Cut Nyak Dien Jakarta -KUPI for Harian Disway -
Menurutnya, peringatan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif terhadap kiprah ulama perempuan dalam sejarah Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.
Para ulama perempuan dinilai memiliki kontribusi besar dalam perjuangan melawan ketidakadilan, kekerasan, dan berbagai bentuk penindasan terhadap masyarakat, terutama perempuan.
Manaqib Ulama Perempuan Indonesia
Pada kesempatan itu, Majelis Musyawarah KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia) juga meluncurkan Atlas Ulama Perempuan Indonesia yang berisi dokumentasi dan pemetaan jejak perjuangan ulama perempuan dari berbagai daerah dan latar belakang pengabdian. Peluncuran dilakukan oleh Nyai Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah.
BACA JUGA:5 Pahlawan Perempuan Indonesia yang Menginspirasi