Pesta Babi dan Kesadaran Politik (Mahasiswa) Gen Z

Minggu 24-05-2026,23:40 WIB
Oleh: Abdus Sair*

Syaratnya cukup sederhana, kumpulkan minimal sepuluh orang, kirim dokumentasi, dan unggah poster ke media sosial. Sebuah metode distribusi yang tak sengaja menjadi gaya gerakan yang sangat efektif di era digital. 

Intimidasi

Menurut Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), ada setidaknya 21 kasus intimidasi yang dilakukan untuk mengganggu acara nobar pada bulan Mei 2026, yang dimulai dari penyadapan intelijen sampai pembubaran paksa dari pihak universitas. Juga, intervensi dari komando militer wilayah seperti yang terjadi di Ternate.

Di Universitas Mataram, aksi nobar yang diinisiasi mahasiswa dan pers kampus dibubarkan atas perintah pihak rektorat. Di Universitas Khoirun, aparat penegak hukum mendatangi lokasi sebelum film tersebut ditayangkan. Koalisi masyarakat sipil yang terdiri atas berbagai lembaga hak asasi mengecam tindakan tersebut karena melanggar kebebasan berpendapat.

Namun, pembubaran itu justru malah membuat penasaran. Setiap tayangan yang memperlihatkan petugas membubarkan mahasiswa menjadi viral, menarik ribuan penonton baru yang sebelumnya mungkin tidak pernah mendengar kata ”proyek strategis nasional” dalam konteks Papua. 

Larangan itu, dengan kata lain, menjadi iklan terbaik bagi film tersebut. Dandhy Dwi Laksono tentu memanfaatkan karena ia bukan orang baru di dunia perfilman dokumenter. 

Ia pernah dibungkam di Bali yang mengulas karyawan Freeport serta dibungkam dalam film yang viral menjelang Pemilu 2024, yaitu Dirty Vote. Sejarah selalu membuktikan, makin keras upaya pembungkaman, makin luar gema yang ditimbulkan.

Itulah yang perlu direnungkan lebih dalam, bukan hanya kontroversinya, melainkan juga apa yang mendasari fenomena itu tentang bagaimana generasi Z berhubungan dengan politik. Mahasiswa gen Z sesungguhnya tidak antipolitik. 

Mereka hanya mengingkari format politik yang bertele-tele, yang monolog, yang otoriter, yang menguras tenaga dan membuat orang merasa dipaksa berpartisipasi.

Mereka bereaksi kepada naratif, bukan slogan. Mereka tergerak oleh cerita hidup manusia hidup dalam cerita nyata, bukan oleh angka yang dihadirkan lewat siaran pers atau khotbah yang sudah hilang semangatnya. 

Generasi itu besar dengan storytelling visual, maka bahasa paling menyentuh mereka pun adalah bahasa gambar yang bercerita dengan jujur.

 

Keterlibatan

Pesta Babi menawarkan itu, keterlibatan. Kita diajak masuk ke dalam kehidupan nyata orang-orang Papua Selatan. Kita ditunjukkan fakta dan jiwa-jiwa. 

Lalu, dengan format nobar yang mengharuskan orang-orang berkumpul dan berbicara setelah tontonan tersebut, hasilnya menjadi suatu hal yang sangat menentukan, siapa yang pantas didengar lebih dulu.

Yang tak kalah penting, keberanian institusional. Saat perwakilan universitas mencoba membubarkan diskusi film atas nama ”kondusivitas”, yang sesungguhnya dipertaruhkan adalah jiwa dari lembaga pendidikan itu sendiri. 

Kategori :