Senja Kala Aktivisme Kampus
ILUSTRASI Senja Kala Aktivisme Kampus.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
DAHULU mahasiswa menjadi pengurus badan eksekutif mahasiswa (BEM) adalah sebuah kehormatan akademik sekaligus memiliki moral sosial yang paling didambakan. Ruang-ruang kuliah mematangkan nalar kritis mahasiswa, sedangkan organisasi menjadi kawah candradimuka tempat kepedulian sosial ditempa secara nyata.
Ada sebuah kebanggaan kolektif ketika melihat para aktivis kampus berdiri di garda depan. Bukan hanya dengan retorika yang berapi-api, melainkan juga dengan ketajaman analisis, prestasi akademik yang cemerlang, dan solusi konkret bagi masyarakat.
Namun, potret ideal itu kini tampak makin kabur. Bahkan, nyaris tenggelam di tengah bisingnya era digital.
Bayangkan, jika segalanya hari ini harus diukur dan divalidasi melalui takaran views, likes, dan shares, orientasi aktivisme kampus pun bergeser secara radikal. Mahasiswa tidak lagi berlomba-lomba merumuskan solusi atas persoalan rakyat yang rumit, tetapi berlomba memburu panggung.
BACA JUGA:Aktivisme Baru dan Demokrasi Kampus
BACA JUGA:Aktivisme Digital, Cara Anak Muda Bersuara Lewat Media Sosial
Aktivisme yang dahulu sakral kini telah bermetamorfosis menjadi sebuah teater pencarian atensi, tempat sensasi jauh lebih bernilai ketimbang substansi.
Jebakan Algoritma dan Sindrom Pendangkalan Pikiran ”The Shallows”
Pergeseran orientasi itu sejatinya bukan sekadar masalah gaya hidup atau tren sesaat, tetapi sebuah gejala kultural yang mewabah. Gejala tersebut dibedah secara tajam oleh Nicholas Carr dalam bukunya yang termasyhur, The Shallows: What the Internet is Doing to Our Brains.
Carr mengingatkan kita bagaimana paparan informasi digital yang masif, cepat, dan instan telah mendesain ulang cara kerja otak manusia secara perlahan.
Apabila kita terus-menerus membiarkan diri hanyut dalam arus informasi yang serbacepat tanpa filter, tanpa arah, kapasitas otak untuk melakukan kontemplasi mendalam, berpikir kritis secara sistemik, dan merenungkan makna yang esensial akan mati secara perlahan. Lalu, hal tersebut kemudian menyisakan kemampuan memindai yang dangkal.
BACA JUGA:Pasar Menentukan Kampus?
BACA JUGA:Kampus Berdampak dan Tuntutan Mahasiswa Berprestasi
Ketika sindrom itu menginfeksi jantung gerakan mahasiswa, yang lahir kemudian adalah sebuah fenomena pendangkalan pikiran yang masif. Para aktivis hari ini jarang lagi terlihat menghabiskan waktu berjam-jam melahap buku-buku tebal, membedah metodologi riset yang rumit, atau mendiskusikan gagasan besar secara mendalam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: