Senja Kala Aktivisme Kampus

Senja Kala Aktivisme Kampus

ILUSTRASI Senja Kala Aktivisme Kampus.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Jika masalah internal almamater diobral di media sosial tanpa verifikasi yang utuh dan tanpa niat tulus mencari jalan keluar, hancurlah fondasi sense of belonging (rasa memiliki) yang seharusnya dirawat bersama. Tidak ada lagi daya rawat atas rumah bersama tersebut. Yang ada adalah mereduksi dan merusak yang sudah ada. 

Jika kampus diperlakukan secara transaksional dan diobrak-abrik demi ego sesaat, almamater direduksi sekadar menjadi properti panggung teater demi popularitas segelintir pengurus. Kampus yang seharusnya menjadi tempat persemaian akal budi justru dikorbankan demi kepuasan impresi digital yang fana.

Menata Ulang Arah Gerakan Mahasiswa

Sudah tiba waktunya bagi kaum muda di kampus untuk melakukan koreksi diri secara besar-besaran sebelum semuanya terlambat. Jika gerakan mahasiswa ingin diselamatkan dari jurang kehampaan, perlulah sebuah revolusi kesadaran harus segera dimulai dari dalam diri mereka sendiri. 

Jika para aktivis berani membatasi diri dari kecanduan validasi digital, kembali membiasakan diri membaca literatur yang utuh, serta menghidupkan kembali tradisi riset yang mendalam, maka percayalah, kedalaman berpikir itu akan pulih dengan sendirinya.  

Andai saja, setiap kritik tajam yang dilayangkan selalu diiringi dengan etika institusional yang bermartabat, kami yakin kampus akan kembali bertransformasi menjadi rumah bersama yang dibanggakan prestasinya bukan sekadar arena panggung digital yang diobrak-abrik demi memburu tepuk tangan dunia maya. (*)

*) Moch. Imron Rosyidi dan Imam Sofyan adalah dosen Prodi Komunikasi, FISIB, Universitas Trunodjoyo Madura.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: