Pasar Menentukan Kampus?
ILUSTRASI Pasar Menentukan Kampus?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
PADA DASARNYA, universitas lahir bukan semata untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, melainkan sebagai ruang pencarian kebenaran. Dalam tradisi klasik, dari Bologna hingga Nusantara modern, universitas berdiri di atas keyakinan bahwa ilmu pengetahuan adalah proses yang terus bertumbuh, bercabang, dan saling menghidupi.
Simbol pohon ilmu yang digunakan Universitas Indonesia, misalnya, merepresentasikan cabang-cabang pengetahuan yang akan terus berkembang selama ”batang utama” kehidupan intelektual tetap hidup.
Filosofi itu penting diingat ketika wacana penghapusan bertahap program studi (prodi) di universitas yang dianggap tidak relevan dengan industri mengemuka. Ilmu pengetahuan tidak berkembang secara linier mengikuti pasar, justru sering kali pasarlah yang tertinggal dari penemuan ilmiah.
Banyak disiplin yang hari ini dianggap ”tidak relevan” bisa menjadi fondasi bagi inovasi masa depan. Sejarah menunjukkan bahwa ilmu-ilmu dasar, humaniora, bahkan studi yang tampak ”abstrak”, kerap melahirkan terobosan besar yang baru terasa manfaatnya puluhan tahun kemudian.
BACA JUGA:Kampus Berdampak Berbasis Riset: Akselerasi Menuju Kemandirian Perti
BACA JUGA:UNUSA Kampus NU yang Inklusif
Meski demikian, realitas kontemporer tidak bisa diabaikan. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi mulai mendorong evaluasi terhadap prodi yang dinilai tidak selaras dengan kebutuhan industri.
Tujuannya jelas, mengurangi kesenjangan antara lulusan dan pasar kerja. Bahkan, opsi penutupan disebut sebagai langkah terakhir dalam proses penataan pendidikan tinggi agar lebih relevan dan berdampak. Kebijakan semacam itu bukan hal baru, baik di Indonesia maupun dunia.
Di Indonesia, mekanisme penutupan prodi telah lama diatur secara administratif, melalui evaluasi mutu, jumlah mahasiswa, hingga keberlanjutan akademik. Dalam praktiknya, sejumlah prodi memang pernah ditutup atau digabung, terutama di perguruan tinggi swasta yang tidak mampu mempertahankan kualitas atau minat mahasiswa.
Secara global, dinamika buka-tutup program studi juga merupakan bagian dari evolusi universitas. Di Amerika Serikat dan Eropa, banyak kampus menutup jurusan klasik seperti studi bahasa tertentu atau filsafat terapan karena minim peminat, sembari membuka program baru seperti data science, artificial intelligence, dan sustainability studies.
BACA JUGA:Krisis Sunyi Kampus Swasta
BACA JUGA:Kampus Berdampak dan Tuntutan Mahasiswa Berprestasi
Di Inggris, misalnya, beberapa universitas sempat menutup program humaniora pascakrisis finansial 2008, sebelum kemudian muncul kritik bahwa langkah tersebut menggerus fondasi intelektual jangka panjang.
Fenomena itu menunjukkan bahwa keputusan berbasis pasar sering kali bersifat siklikal dan hanya mengikuti tren ekonomi yang berubah-ubah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: